belajar menulis dengan beberapa tugas yang telah ada dan beberapa hal yang ingin disampaikan dengan metafora. selamat membaca, oh ya.. jika hendak mengutip beberapa info dari blog ini, mohon sertakan sumbernya ya.. ingat plagiat itu tidak baik lho. salam.... ws.ningrum

BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
wo shi filolog wo ye shi antropolog. dui, wo xi huan hanyu. jika ada yang mau kenalan, boleh kirim e-mail kakak :D oya, ws ningrum shi: windi susetyo ningrum
Diberdayakan oleh Blogger.

w.s.ningrum

w.s.ningrum
爱,我明白如果上帝不睡觉 我相信

7 Apr 2017

Women of The Forest (Yolanda dan Robert Murphy)


catatan ini merupakan tugas kuliah Organisasi Sosial di pogram studi Pascasarjana, kali ini saya merbitkan review yang dipresentasikan oleh Meinar Sapto Wulan dan Ananda Putri Laras.
berikut rangkumannya...


The Murphys present an interesting and sensitive account of how Mundurucui involvement in rubber tapping has affected the relative positions of the sexes. They show that women, far from being passive and conservative, as they are often described in studies of culture change, have played a crucial and very active role in the coming of the new order. This new order, based on a highly individualized pattern of labor and of patron-client relationships, involves a closer bond between husband and wife and the emergence of the nuclear family as the central residential. and economic unit. Traditional patterns of intrasexual cooperation have dissolved and the men's house has disappeared.

keyword : gender role, women, feminist, matrilokal, patrilineal, social network, household, patron-client.

Secara keseluruhan, Woman of The Forest ini merupakan etnografi yang fokus ada peran gender dan identitas gender di masyarakat hutan tropis di Brazil yang dilakukan pada awal tahun 1952 hingga sekitar tahun 1972. Mereka adalah masyakarat adat Mundurucui yang berada di sebelah utara Sungai Tapajos, Brazil tepatnya di daratan sungai Amazon. Jumlah orang Mundurucui pada saat itu hanya sekitar 1250 orang dah tersebar di 12 desa yang terpisahkan oleh sungai Tapajos. Di dalam buku ini, hanya ada 2 desa yang menjadi fokus dan keduanya berseberangan diantara sungai Tapajos (tidah ada keterangan nama desa yang jelas di buku ini).

Pertama kali yang dibahas oleh pasangan antropolog dari Amerika Serikat ini di Bab awal adalah bagaimana pola livelihood yang dilakukan komunitas di sana, bagaimana mereka menggambarkan begitu cara bekerja mereka dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup di lingkungan yang kaya akan sumber daya alam tropis. Menjadi nelayan, berkebun, hingga berburu mereka lakukan dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar alam mereka.

Perubahan kondisi masyarakat saat sebelum masa kependudukan kolonial Portugis juga begitu detail diceritakan. Dimana ada banyak orang yang berkurang karena proses migrasi, peperangan, perbudakan dan penyakit yang dibawa pendatang sehingga menyebabkan kematian massal terjadi di tahun-tahun 1950-1960. Selain itu, perubahan lingkungan juga terasa pada hutan tropis di Tajapos yang diduduki industri karet yang ternyata asal muasalnya industri karet kemudian pindah ke hutan malaysia.  Komoditas mereka selain Karet, ada Tepung Singkong (yang disebut dengan farinha), sarparilla (semacam minuman ringan) dan buah-buahan. Mayoritas laki-laki pergi ke hutan menyadap karet da nada banyak dari mereka diperkerjakan lepas oleh pendatang (portugis). Menurut Murphys, disini mereka dianggap budak.

Disamping itu paling dominan dibicarakan dalam etnografi ini adalah pembagian peran gender yang terasa ada dominasi laki-laki dan posisi sosial antara laki laki dan perempuan.  Peran gender laki-laki dan perempuan disini memang sangat terasa disini. Laki-laki dan perempuan bisa hidup makan bahkan tidur pun terpisah. Perempuan hidup, bekerja dan makan bersama anak-anak mereka dan laki-laki yang sudah berusia 12 tahun ke atas mereka tinggal bersama-sama dalam satu rumah dan berburu dan berkumpul bersama dalam Men’s House. Perempuan disini mempunyai peran dan tugas yang sangat besar dalam menghidupi keluarga, dari mulai mencari air, kayu bakar, membuat tepung ubi kayu (singkong) atau disebut farinha yang merupakan makanan pokok mereka. Dan laki-laki disini hidupnya hanya berburu dan bergumul bersama laki-laki yang lain.

Konsep feminism yang membalikkan paradigma bahwa perempuan selalu berada di bawah dominasi laki-laki, seperti yang dikatakan Sigmund Freud. Di Mandurucu, perempuan justru dilihat sebagai orang yang dominan walaupun secara identitas, kelompok mereka memberlakukan sistem patrilokal. Adanya pembagian kerja domestik-publik mengakibatkan munculnya perubahan-perubahan sosial. Perempuan memiliki tugas-tugas domestik lebih banyak sehingga untuk menyelesaikannya, para perempuan kerap kali saling membantu sehingga munculah dominasi wanita yang membuat sistem kekerabatan mereka justru terlihat matrilokal. Eratnya hubungan household di antara para wanita merupakan suatu usaha untuk mempertahankan hidup dan membuat mereka jauh dari ketergantungan terhadap pria. Sedangkan laki-laki juga berusaha menciptakan householdnya sendiri yang mereka sebut dengan Men’s House.

Peran Perempuan dalam household

Bagi masyarakat Mandurucu, wanita dianggap kurang cerdas tapi keberadaannya tetap penting. Status pria tidak kekal, mereka dikenal dominan, namun hanya pada seks dan reproduksi. Sementara wanita, jika mereka sudah memiliki power maka itu bisa dipertahankan. Mandurucu tidak mengenal kekuasaan formal. Kontradiksi ini akan semakin terlihat ketika Anda mengikuti kehidupan mereka hari demi hari, terutama ketika melihat bagaimana wanita berinteraksi.

Salah satu informan mereka salah satu perempuan bernama Borai, ia merupakan ibu dari 4 anak (3 anak perempuan dan 1 anak laki-laki dari pernikahannya terdahulu). Suaminya bernama Kaba dan mereka jarang sekali bertemu karena Kaba dan anak laki-lakinya tinggal di Men’s house. Disini pekerjaaan dari Borai sangatlah berat, pagi ia harus mengambil air dan kayu bakar, menyiapkan farinha dan mengurus tiga anak perempuannya dan mencuci. Setiap hari ia harus mencuci karena ia hanya mempunyai 2 pakaian saja. Ia ditinggal suami pertamanya dinilai kurang memberikan peranan dalam keluarga maka ia mengatakan pada Yolanda, ia akan memperbaiki cara mengasuh anak dan bekerja dan menghidupi rumah. Menurutnya, seorang perempuan Mundurucui yang baik adalah bisa melahirkan dan mengurus anak yang baik, fungsi reproduksi disini menurut Murphy dinilai penting dari seorang perempuan.

Rumah adalah tempat dimana semua kehidupan sosial itu terlihat. Satu rumah terdiri dari beberapa keluarga inti, sehingga jumlah anggota keluarga keseluruhan bisa mencapai 50 orang lebih. Wanita mengerjakan segalanya di rumah, mulai dari memasak, mengurus anak hingga membuat perlengkapan rumah tangga. Laki-laki jarang terlihat di rumah, biasanya mereka pulang hanya untuk menaruh hasil buruan mereka. Jarang terlihat laki-laki mengobrol dengan istrinya, mereka lebih banyak bermain dengan anak-anak. Walaupun menganut sistem patrilokal, orang-orang Mandurucu justru terlihat sangat matrilokal dari cara-cara mereka mengatur rumah. Sebuah rumah bisa diisi oleh puluhan anggota keluarga karena berdasarkan hubungan kekerabatan yang dibawa oleh ibu. Ini berarti, semasa hidupnya, wanita dikelilingi oleh lebih banyak sanak saudara daripada laki-laki. Solidaritas di antara wanita juga sangat kuat, ini dikarenakan frekuensi melakukan pekerjaan rumah yang sangat sering sehingga kebersamaan mereka terjalin. Hubungan antar pria justru lebih renggang karena frekuensi berburu mereka sporadis.

Sebagai contoh, dalam memproduksi farinha yang merupakan makanan pokok mereka, wanita melakukannya bersama-sama meskipun memungkinkan dilakukan seorang diri. Wanita Mandurucu senang sekali bergaul, memiliki rasa toleransi dan sifat gotong royong yang kuat sehingga pekerjaan apapun mereka bagi. Bahkan ketika anak dari salah satu mereka buang air sembarangan, wanita yang berada paling dekat dengan anak, siapapun itu, akan langsung membersihkannya. Mereka terkadang bertukar pekerjaan, dan semuanya dilakukan sambil mengobrol sehingga tetap terasa menyenangkan.

Laki-laki memiliki respon yang positif dalam melihat ini, dan tetap melindungi wanita di saat-saat tertentu. Ada banyak pekerjaan berat yang cukup berat dilakukan oleh wanita sehingga prialah yang turun tangan. Alasan lain mengapa wanita terus bersama adalah agar mereka tidak dijadikan pelecehan secara seksual, sebab, wanita yang terlihat sendirian disimbolkan sebagai wanita yang bersedia menerima seks dari mana saja. Wanita Mandurucu dianggap kuat karena mereka tidak dipandang individualis atau selalu sendirian, namun selalu menjadi bagian dari wanita-wanita lainnya.           

Dalam kehidupan sosial, pernikahan penting karena dipandang sebagai alasan dilanjutkannya perekonomian keluarga. Selain itu, keluarga juga dilihat sebagai benteng masyarakat, pelindung orang yang lebih lemah, tempat dimana anak-anak dididik dan dibesarkan, dan masih banyak lagi. Uniknya, hal tersebut tidak berlaku di Mandurucu, karena kehidupan sosial mereka justru akan membuat Anda bertanya-tanya buat apa seseorang menikah? Lazimnya, seorang ayah yang pulang berburu akan membawa pulang buruannya ke rumah dan memberi makan anak istrinya. Di Manduruncu, wanita tidak akan kelaparan tanpa suaminya, sebab, wanita-wanita dari household lain senantiasa datang ke rumah mereka untuk memberikan makanan. Itu berarti, hasil buruan seorang ayah pun bukan hanya jadi hak milik istri dan anaknya, namun juga anggota seisi rumah bahkan membaginya ke tetangga. Begitu berharganya pertemanan di antara wanita maka seorang istri akan secara tegas lebih memilih ibunya daripada suaminya. Tidak hanya melindungi, wanita juga saling mengontrol. Kedekatan dan ketergantungan wanita satu sama lain di dalam satu rumah, membuat mereka selalu mengetahui kemana yang lainnya pergi, meskipun tanpa izin. Bahkan mereka juga tau jika salah satu diantaranya sedang jatuh cinta dan pergi dengan seorang pria.

Setelah menikah, pria juga belum tentu tinggal dengan pasangannya. Ia akan tinggal di men’s house bersama pria-pria lainnya, namun sesekali mendatangi tempat tinggal istri untuk memberikan hasil buruan. Saat melakukan seks, orang Mandurucu melakukannya tidak di rumah melainkan di hutan. Dalam kehidupan mereka, sudah menjadi hal yang biasa bahwa seorang Mandurucu bisa menikah dua hingga tiga kali di usia pertengahan. Alasan cerainya beragam, sebagian istri merasa suaminya ternyata pemalas atau bahkan ketahuan selingkuh. Di sini, wanita dilihat lebih kuat karena mendominasi keputusan cerai tersebut. Sesudai bercerai, wanita bahkan ketus dan sinis terhadap mantan suaminya. Kehidupan wanita tidak selesai sampai di situ karena para kerabat wanita sangat mendukungnya, dan berada di antara mereka jauh lebih penting. Wanita Manducuru sudah tau bahwa keberadaan pria datang dan pergi. Benar bahwa wanita menyiapkan segala kebutuhan suami, mulai dari menyediakan makanan dan minuman hingga mencuci bajunya. Akan tetapi, jarang sekali suami yang mewujudkan hal-hal kecil yang diinginkan istrinya, sebab, hal ini sudah dilakukan oleh para kerabat wanita yang tinggal di dalam satu rumah. Seperti hanya pernikahan-pernikahan yang terjadi di Amerika, orang Mandurucu  tidak menikah karena ikatan emosional melainkan untuk membina perekonomian, tapi pada beberapa pasangan yang langgeng terlihat ada keintiman. Kisah-kisah bahwa pria lebih dominan dibanding wanita hanyalah mitos belaka, dalam keadaan sebenarnya, itu tidak terjadi.

Wanita sering dianggap sebagai hambatan bagi kemajuan sehingga mereka terisolasi dari segi politik hingga ekonomi. Tidak banyak yang dinikmati oleh wanita dari perubahan sosial. Tanda-tanda ini bisa dilihat dari bagaimana orang Mandurucu bernostalgia. Pria  di sana senang sekali mengungkit-ungkit masa lalu, mitos dan ritual sebagai masa-masa kejayaan mereka, namun wanita sebaliknya. Hebatnya, justru wanita-wanita Manduruculah yang mendongkrak perubahan. Mereka tidak lagi orang-orang pasif yang hanya berdiam di rumah. Wanita kini memegang pisau, kapak, dan melakukan beberapa pekerjaan laki-laki. Pria yang bekerja di dalam industri adalah idaman wanita Mandurucu, akan tetapi, apabila suaminya tidak memenuhi persyaratan itu maka istri-istri siap membantu, bahkan membantu membayar hutang-hutang keluarga. Perubahan sosial di Mandurucu sangat mendalam, ini terlihat dari organisasi sosial mereka yang sudah cenderung berubah: hilangnya men’s house, pembagian kerja secara seksual, side by side work, hilangnya inti keluarga dan masih banyak lagi.

Konsep organisasi sosial yang m juga berlaku di Men’s house yang sebenarnya hubungan mereka bukan lagi hubungan geneologis bukan hanya berdasarkan keturunan tetapi hubungan siapa yang terkuat dan bagaimana mereka bisa mengambil peran dalam menentukan hasil perburuan dan pembagian tugas dalam berburu. Hubungan mereka juga berdasarkan patron-klien, dalam satu rumah mereka semua saling membantu dan mendukung dalam pekerjaan mereka.
           
The Murphy’s Sulit Menjadi Mundurucui

Di Bab pendahuluan sudah dijelaskan bagaimana Yolanda dan Robert ini mendapatkan project untuk menulis etnografi ini berawal dari tawaran meneliti salah satu professor Antropolog yang tidak lain adalah dosen mereka yaitu Gene Weltfish. Setelah mereka lulus master, Gene berharap kepada mereka berdua dapat meluruskan bias gender yang biasanya terjadi di kalangan antropolog laki-laki dalam meneliti perempuan. Menurut Gene, para antropolog laki-laki suka lalai dalam mendengar suara-suara perempuan dan informan perempuan juga cenderung tidak terbuka pada mereka dan terkadang jawaban-mereka malah datang dari laki-laki (suami, saudara atau kerabat mereka) yang sudah barang tentu tidak bebas nilai dan sangat bias gender. Selain itu, kadang aktivitas perempuan lalai dalam pengamatan antropolog dalam membahas 1 komunitas dan yang bisa masuk memahami perempuan adalah perempuan itu sendiri .

Maka Gene pun memanggil Yolanda untuk meneliti perubahan social di Mundurucui dari sisi perempuan yang sebenarnya sangat erat kaitannya dengan masuknya kolonial di Brazil. Yolanda saja tidak cukup, Gene juga memerlukan suara-suara dari laki-laki dan ia tahu bahwa mundurucui hidup terpisah antara laki-laki dan peremupuan maka Gene pun memanggil Robert untuk bisa membagi tugas dapat tinggal di lingkungan Men’s house. Walaupun awalnya ia merasa, satu antropolog perempuan sudah cukup, tetapi dalam kasus Mundurucui dengan hidup terpisahkan, Gene juga membutuhkan Robert.

Di buku ini juga dijelaskan secara detail bagaimana metode etnografi yang dilakukan Yolanda dan Robert disini adalah membagi tugas antara mereka berdua, Yolanda selalu berada diantara diantara kelompok perempuan sambil bantu-bantu membuat tepung singkong, mandi, mencuci dan ikut menjaga anak. Orang Mundurucui memang cepat akrab dengan orang baru, sehingga memudahkan Yolanda dan Robert bis masuk dan imerge ke lingkungan mereka. sedangkan Robert juga ikut berkumpul di Men’s house dengan sedikit belajar berburu dengan pemuda Mundurucui.

Disisi lain, Mereka sebenarnya bosan hidup terpisahkan tempat, mereka kadang diam-diam tinggal berdua layaknya suami istri dan membutuhkan ruang berdua layaknya suami istri. Mereka terkadang menarik diri dari lingkungan kelompok laki-laki dan perempuan disana. Yolanda pun mengaku tidak mudah keluar dari kelompok perempuan, karena begitu ia hilang sesaat, ia akan cepat dicari oleh salah satu dari mereka. Begitupun juga dengan Robert, saat ia pergi bertemu Yolanda, ia dicari salah satu informan mereka untuk melanjutkan perburuan di hutan. Di bab awal juga Yolanda bercerita, menjadi perempuan Mundurucui amatlah sulit, tanggung jawab mereka bukan hanya pada keluarga mereka sendiri, tetapi juga anak orang lain yang tinggal dirumah mereka atau bahkan disekitar mereka. Misalnya saat informannya sedang mencuci, ia harus menjaga ketiga anaknya bermain dan menggendong bayinya. Yolanda dan Robert yang terbiasa layaknya pasangan suami istri di Amerika yag individual merasa sulit beradaptasai awalnya dan mereka cepet rindu akan kembali kerumah.

Walaupun sulit, kontribusi mereka sangatlah besar dalam literature etnografi feminis dan gender yang di tahun 1950an jarang dibahas dan semuanya dibungkus dengan isu perubahan sosial, kolonialisme dan hutan dijelaskan mempunyai kontribusi yang berharga dalam pemikiran komparatif dan studi peran gender yang berlaku di komunitas adat di Mundurucu.

3 komentar:

  1. Nah ini dia salah satu contoh kenapa faktor jatuh dari langit belum tentu menentukan stereotip seks dan gender.

    Trims buat penjelasannya yang mencerahkan, dear Mbak Windi, Mbak Laras, dan Mbak Meinar!

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip... buku ini memang keren banget mas.
      aku juga big thanks sama mbak meinar dan mbak laras... ;)

      Hapus
  2. Kadang Puntar & Daftar Agen Slot Online Casino Game
    Play kadangpintar the Kadang Puntar งานออนไลน์ & Daftar Agen Slot Online in Gacor (Philippines) on KadangPintar. Kadang Puntar & 샌즈카지노 daftar agen slot online casino game.

    BalasHapus