belajar menulis dengan beberapa tugas yang telah ada dan beberapa hal yang ingin disampaikan dengan metafora. selamat membaca, oh ya.. jika hendak mengutip beberapa info dari blog ini, mohon sertakan sumbernya ya.. ingat plagiat itu tidak baik lho. salam.... ws.ningrum

BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
wo shi filolog wo ye shi antropolog. dui, wo xi huan hanyu. jika ada yang mau kenalan, boleh kirim e-mail kakak :D oya, ws ningrum shi: windi susetyo ningrum
Diberdayakan oleh Blogger.

w.s.ningrum

w.s.ningrum
爱,我明白如果上帝不睡觉 我相信

9 Okt 2022

Muhammad Sembara Yulianto (part 1)


 

 Sudah lama sekali aku tidak menuliskan cerita pada blog pribadiku. Kini aku kembali menulis cerita, sebagai alat pemersatu rindu dengan apa yang ingin aku tuliskan disini, sebagai bentuk sharing atas pengalamanku yang mungkin juga ditanyakan oleh teman-teman. Sayangnya, ini bukan tentang cerita yang menggembirakan untukku. Cerita yang tergolong dalam genre sedih, namun cukup menjadikan sebuah titik balik bagiku dan membuka sudut pandang baru tentang sesuatu.





Ya, benar...

Ini kisahku tentang anak pertamaku, anak sulungku, anak yang baru pertama kali aku kandung dan ia harus meninggalkan kami semua, sebelum sempat aku menyusuinya. Singkatnya ini adalah keguguran. Memang terksesan, ah itu sudah biasa bagi kaum hawa.. keguguran adalah hal yang dianggap biasa saja. namun bagi sosok ibu atau sosok perempuan, tentunya memiliki masa/kenangan tersendiri dengan sang buah hati, saat ia berada di perutnya.

Aku ingin membagikan kisah ini dengan alur maju, tentunya ada pula yang aku tambahkan sedikit untuk mengenang sulungku. Sengaja aku tidak menjawab pertanyaan mereka ketika menanyaiku via WA. Tentunya kau sudah bisa menjawab bukan? Apa alasanku enggan untuk berbagi cerita saat itu.

 

Kisah dimulai

Beberapa hari setelah aku resmi pindah ke pulau Kalimantan, tepatnya di kota Palangka Raya. Tentunya membuatku berfikir akan mencari kost untuk singgah sementara, sebelum membeli rumah. Singkat cerita, aku boyongan dari jawa ke kalimantan via jalur darat-laut, menggunakan mobil peninggalan bapak, bersama suamiku. Sebelumnya, aku ingin mengatakan jika aku memanggil suamiku dengan sebutan ‘bapak’, jadi jika ada kata bapak yang nanti tertulis pada cerita ini, itu tandanya suamiku. Bukan ayah kandungku, sementara sebutan bapakku, adalah untuk ayah kandungku. Singkat cerita kembali, setelah beberapa minggu, tepatnya pada bulan juni aku dinyatakan hamil.

Juni sampai Agustus

Pada bulan-bulan ini, tentunya dinyatakan sebagai trisemester pertama dan wajar jika seorang ibu hamil mual, muntah, dan tidak selera makan. Apapun makanan yang tertelan, pasti selalu saja dimuntahkan. Meskipun itu makanan kesukaanku atau makanan yang sangat lezat dimata orang lain. Kala itu, sangat ingin sekali pulang ke kampung halaman. Menikmati udara yang sejuk, pemandangan sawah dan juga air segar yang belum pernah aku temui selama disini. Entah mengapa, semua makanan rasanya tidak enak, bahkan air putihpun muntah setelah minum. Sampai aku pun bingung, harus memilih makanan yang seperti apa.

Kala itu, aku hanya bisa memakan buah-buahan yang segar dan manis. Kurang suka dengan buah yang asam dan tidak berair. Teh aku mual, jeruk terkadang bayiku mau menerima, kadang pula dimuntahkan. Bahkan untuk minum air mineral saja, mencoba beberapa merk dan sampai menemukan air nestle yang sangat cocok.

Sembaraku suka dengan air minum nestle. Ia tidak mau air mineral lainnya, apalagi air minum isi ulang. Sembaraku juga memilih makanan yang sehat dan segar, ia tidak suka makan pedas dan makanan yang mengandung banyak micin. Ia pun tidak mau aku makan di pinggir jalan. Entah mengapa anak ini suka sekali dengan makanan yang bersih, sehat, dan harga yang cukup mahal di kantongku. Ia tak mau aku kelelahan, meskipun hanya sekedar mencuci piring atau masak makanan yang simpel. Selalu saja aku mual mencium aroma air kran di wastafel. Aku pun mual dengan bau minyak dan bau dapur. Untungnya, suamiku mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti bersih-bersih, termasuk memasak dan mencuci piring. Sungguh, aku tak kuasa memaksakan diri untuk membuatkanya makanan atau hanya sekedar membuatkan kopi.

Beberapa minggu pada trisemester pertama, aku mual mencium aroma tubuh suamiku. Sampai aku muntah. Bahkan beberapa hari, aku minta tidur dulu baru ia berada disampingku. Kala itu, aku sudah terlelap tidur, suami menyusulku di kasur, namun baru saja ia merebahkan badannya, aku terbangun dan ke kamar mandi... muntah. Entah berapa kali, kupaksakan tidur namun tidak bisa karena aromanya yang membuatku mual. Hingga akhirnya aku tidak bisa tidur sama sekali.

Beberapa hari, menjelang aku latsar di Samarinda sudah tiba

Sembara mengelilingi Kalimantan

Berdasarkan pada konsultasiku dengan bidan dan juga suami, aku memutuskan untuk berangkat latsar menuju Samarinda dengan naik pesawat. Aku masih kebayang kalau ditengah jalan akan muntah, mual, dan sebagainya. Ditemani oleh sahabatku, sebut saja dengan nama Teteh. Ia menemaniku pulang pergi dengan naik pesawat dan kami memutuskan untuk pulang dengan naik bus, atas beberapa pertimbangan termasuk kondisi badanku kala itu.

Selama di Samarinda, tentunya aku rindu dengan suami. Namun ketika aku mencoba untuk video call, belum ada semenit, aku sudah mual melihat wajahnya.

Aneh, tapi nyata.. Selama di Samarinda, aku tidak mual muntah hebat sama sekali, meski terkadang malam hari ada saja makanan yang keluar dari mulutku dan kurang bisa menikmati santapan makan malam. Tak apa, setidaknya tidak separah di awal.

Aku baik-baik saja selama latsar, namun jika berkomunikasi, mendengar suara atau melihat wajah suamiku, aku langsung mual dan rasanya otot di leher kencang semua.

Perjalanan Samrinda menuju Palangka Raya pun, aku baik-baik saja. Sembaraku tidak rewel sama sekali saat perjalanan. Mungkin ia memang suka dengan traveling. Ia ku bawa dengan jalur udara dan darat. Pada jalur darat pun melewati sungai, penyebrangan dengan kapal veri mini. Sama sekali dia tidak rewel sedikitpun, bahkan kuajak jajan di pinggir jalan pun ia mau dan tidak memuntahkan makanannya. Disini, aku mencoba untuk minum air mineral selain nestle, ia pun mau menerima dan sejak saat itu aku bisa minum merk lain. Kecuali merk tertentu yang kurasa tidak nyaman di leher.

September

Beberapa hari setelah pulang latsar, aku memang baik-baik saja. Tubuhku hanya flu sedikit karena terlalu lelah di perjalanan.

Beberapa hari aku merasa ada noda darah di celanaku, aku tidak berfikir aneh-aneh kala itu. Karena setelah itu bersih dan tidak ada noda lagi pada keesokan harinya. Hingga pada suatu saat, banyak sekali noda darah di sprei. Suamiku tahu dan ia membawaku ke puskesmas. Setelah di cek disana, bidan berkata kalau jantungnya masih bagus, berdetak kencang dan ketika perutku ditekan tidak terasa sakit. Namun ia memintaku untuk segera menemui dokter kandungan untuk diperiksa lebih lanjut karena pendarahan yang cukup banyak, sehingga harus segera ditangani. Alhasil, aku dirujuk ke rumah sakit.

 

Naik turun tangga

Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter, termasuk apakah kami melakukan hubungan atau tidak pada minggu terakhir. Namun kami tidak melakukan sama sekali. Bagaimana aku mau melakukannya, melihat wajah suamiku saja aku masih mual. Sementara aktivitasku masih tergolong ringan karena mengajar baru 1 hari dan itu pun dengan zoom. Aktivitas lainnya pun tidak terlalu berat. Mencuci dan lainnya suamiku yang mengerjakannya. Peralanan ke kampus pun menggunakan mobil, meski terkadang jika ke warung terdekat aku meminjam motor anak sebelah. Tapi sangat sedikit, tidak sebanyak dengan waktu leha-lehaku. Namun ada satu hari dimana aku pada hari itu naik turun tangga kost, mungkin lebih dari lima kali. Aku merasa ini sudah masuk minggu ke-13 dan selama kehamilan pada minggu sebelumya, aku merasa baik-baik saja. Makanya aku tidak terlalu kepikiran kalau naik turun tangga akan berbahaya. Namun disini ketika naik turun tangga, aku tidak brutal dan tetap jalan sebagaimana mestinya. Kala itu aku memang mengakui nafas yang sedikit berat ketika selepas naik tangga. Kupikir masih wajar kala itu. Namun dokter berkali-kali memention adegan naik turun tangga. Ia berkata boleh naik turun tangga namun harus dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan.

Pertama kali bertemu dokter aku hanya diberi obat dan diwanti-wanti untuk santai ketika naik turun tangga. Sejak saat itu, aku lebih berhati-hati ketika melewati tangga dan sambil memegang perutku. Menjaga nafas agar tetap stabil dan juga sambil berpegangan pada pinggiran tangga. Aku pun mulai memakai sepatu kets (sepatu olahraga), tidak mengenakan sepatu hak tinggi karena terasa sangat pegal sekali.

Kedua kalinya ke dokter

Seminggu setelah aku ke dokter yang pertama, aku masih mengalami pendarahan. Dokter sudah memberiku obat penguat kandungan dan vitamin. Saran-saran yang diberikan aku laksanakan tanpa alasan apapun aku melanggarnya. Malam harinya, seminggu setelah aku ke dokter pertama kali. Muncul lagi darah dan cukup banyak, kurang lebih setengah pembalut. Aku menyadari karena terbangun, sekitar jam 4 kurang (sebelum subuh). Aku bergegas ke kamar mandi dan mengganti pembalutku.

Pagi harinya sekitar jam 6 aku terbangun lagi, darah sudah banyak sekali dan aku berganti pembalut lagi. Aku kembali ke tempat tidur untuk beristirahat kembali. Namun sekitar jam 8/9 (lupa), sudah merasa tidak nyaman lagi. Ternyata ketika bangun sudah banyak sekali darah di sprei, sampai menembus pada bedcover dan sprei lapisan kedua. Aku kembali berganti pembalut. Suamiku melepas kain bernoda darah tersebut dan merendamnya.

Kedua kalinya ke dokter.

Karena saking banyaknya darah yang keluar, dokter memutuskan untuk aku dirawat inap. Hal ini untuk meminimalisir aku beraktivitas dan juga mendapatkan cairan tambahan (infus). Pada sebelumnya dokter berkata, kalau air ketubannya kurang. Aku diminta untuk minum banyak air putih. Pada pemeriksaan kedua pun, ia masih mengatakan hal yang sama. Air ketubannya sangat kurang dan ia menanyakan kembali apakah keluar air atau tidak.

Disini, aku tidak tahu air apa yang dimaksudkan oleh dokter karena aku merasa yang keluar adalah darah. Namun setelah bertanya pada perawat, ia menjelaskan kalau air yang keluar itu kita tidak akan sadar kapan keluarnya. Kalau saat sedang tidur atau diam, tahu-tahu celana sudah basah saja. Ketika hal itu diucapkan, aku teringat memang beberapa kali celana basah. Namun kukira itu karena lembab saja. Setelah pendarahan yang pertama, aku langsung memakai pembalut dan tidak tahu jika ada air yang keluar. Kerap kali memang aku merasa ada cairan yang keluar seperti kencing. Namun disitu kupikir adalah kencing biasa, tapi tidak pesing. Mungkin air itu yang dimaksud oleh dokter. Ohya, disini dokter kandunganya pria ya..

Rawat Inap Pertama

Disini, pertama kalinya aku diinfus dan rawat inap di rumah sakit. Seperti yang aku jelaskan sebelumnya, disini aku sangat diminimalisir untuk bergerak. Bahkan ke kamar mandi hanya untuk BAB. Aku disarankan untuk memakai popok dewasa agar bisa kencing di popok, tidak perlu keluar kamar. Namun aku tidak bisa kencing di popok, sudah kupaksa dan kucoba, tapi tidak bisa. Namun ketika aku ingin bersin atau tertawa, kadang ada air yang keluar. Entah itu air ketuban atau kencing, aku tidak bisa membedakannya.

Dokter dan perawat tentunya memantau kesehatanku, apakah masih mengeluarkan darah atau tidak. Sampai hari kedua, aku masih mengeluarkan darah cukup banyak dan berkali-kali aku ke toilet untuk kencing. Kira-kira setiap 3-4 jam sekali aku pergi ke toilet, sambil memeriksa volume darah yang keluar. Saat hari kedua, dokter bilang kalau besok darah sudah berhenti, bisa pulang dan usg untuk melihat perkembangan janin.

Pada usg pertama dan kedua, doker berkata kalau janin masih dalam posisi yang bagus dan detak jantungnya masih terdengar. Namun aku merasa pada usg kedua, detak jantungnya tidak sekencang yang pertama (mungkin hanya perasaanku atau bagaimana, aku merasa demikian).

Pada hari ketiga, perdarahan sudah hilang dan disini aku merasa senang karena bisa usg kembali.

Fyi, aku sempat marah dengan suamiku karena suatu hal ketika di rumah sakit, hal itu menjadikan keluar darah yang lebih banyak dari sebelumnya. Namun pada sore harinya teteh mengunjungiku, ia mengajak ngobrol dan bahas apapun yang ingin dibahas. Hingga pada akhirnya, setelah kunjungan dari teteh, aku tidak mengeluarkan darah sama sekali. Disini aku mau mengatakan pula, kondisi marah, stres, dan sebagainya sangat mempengaruhi volume darah yang keluar. Karena setelah teteh datang, benar-benar tidak ada darah sama sekali. Hingga keesokan paginya.

Tentunya aku merasa senang karena bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Suamiku pun senang karena aku sudah tidak mengeluarkan darah.

Namun pada malam hari sebelumnya.................

 

Supaya tidak terlalu panjang disini, saya lanjutkan di part kedua yah...

https://windisusetyothamrin.blogspot.com/2022/10/muhammad-sembara-yulianto-part-2.html

0 komentar:

Posting Komentar