belajar menulis dengan beberapa tugas yang telah ada dan beberapa hal yang ingin disampaikan dengan metafora. selamat membaca, oh ya.. jika hendak mengutip beberapa info dari blog ini, mohon sertakan sumbernya ya.. ingat plagiat itu tidak baik lho. salam.... ws.ningrum

BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
wo shi filolog wo ye shi antropolog. dui, wo xi huan hanyu. jika ada yang mau kenalan, boleh kirim e-mail kakak :D oya, ws ningrum shi: windi susetyo ningrum
Diberdayakan oleh Blogger.

w.s.ningrum

w.s.ningrum
爱,我明白如果上帝不睡觉 我相信

7 Apr 2017

Feminisme dalam Karya Sastra Indonesia


1.    Latar Belakang
Femisme merupakan kajian sosial yang melibatkan kelompok perempuan yang tertindas oleh budaya patriarki. Kualifikasi antropolog perempuan lebih baik daripada pria, merupakan hal yang masih diperdebatkan yang menyatakan bahwa antropolog wanita lebih baik daripada pria dalam mempelajari wanita. Pengalaman dan aktivitas wanita harus selalu dianalisis dalam konteks sosial dan historis secara spesifik, memberikan suatu segi landasan dari segi antropologi. Perbedaan budaya bukanlah mengenai keistimewaan dan keanehan budaya lain, melainkan merupakan pengakuan terhadap keunikan budaya. Perempuan dikatakan lebih dekat dengan alam, diasosiasikan  dengan lingkup domain domestik daripada publik dalam kehidupan sosial. Rosaldo memberi batasan domestik sebagai lembaga dan kegiatan yang diatur sekelompok ibu dan anak. Sedangkan publik menunjuk pada kegiatan, lembaga, dan mengorganisir dan menyatukan kelompok-kelompok khusus ibu dan anak.
Feminisme adalah gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki, upaya melawan pranata yang ada. Misalnya institusi rumah tangga dan perkawinan. Kesalahpahaman seperti itu, menjadikan feminisme yang kurang mendapat tempat di kalangan kaum wanita sendiri, bahkan secara umum ditolak oleh masyarakat. Tujuan inti pendekatan feminisme, menurut Djajanegara adalah meningkatkan kedudukan dan derajat perempuan agar sama dengan laki-laki. Perjuangan untuk mencapai hal ini, mencangkup beberapa cara termasuk melalui bidang sastra.
Karya sastra kerap kali menjadi ajang perdebatan ketidakadilan gender yang secara simbolis menjadi sebuah peperangan tulis. Dalam kritik sastra feminis menurut Sugihastuti dan Suharto (2005: 23) bahwa konsep-konsep gender digunakan sebagai dasar analisis. Lima konsep gernder tersebut antara lain 1) perbedaan gender ialah perbedaan dari aribut-atribut sosial, karakteristik, perilaku, penampilan, cara berpakaian, dan peranan. 2) Kesenjangan gender ialah perbedaan dalam hak berpolitik, memberikan suara, bersikap antara laki-laki dan perempuan. 3) Genderzation adalah pengacuan konsep pada upaya menempatkan jenis kelamin pada pusat perhatian identitas diri dan pandangan dari dan terhadap orang lain. 4) Identitas gender ialah gambaran tentang jenis kelamin yang seharusnya dimiliki dan ditampilkan oleh tokoh yang bersangkutan, dan 5) Gender role ialah peranan perempuan dan laki-laki yang dapat diaplikasikan secara nyata.
Sasaran penting dalam analisis feminis menurut Suwardi Endaswara (2008: 146) adalah sedapat mungkin berhubungan dengan mengungkap karyanya penulis wanita masa lalu dan masa kini; mengungkapkan berbagai tekanan pada tokoh wanita dalam karya sastra yang ditulis oleh pengarang pria; mengungkapkan ideologi pengarang wanita dan pria, bagaimana mereka memandang diri sendiri dalam kehidupan nyata; mengkaji aspek ginokritik, memahami proses kreatif kaum feminis; dan mengungkap aspek psikoanalisa feminis, mengapa wanita lebih suka hal yang halus, emosional, penuh kasih, dan sebagainya.
Citra perempuan dalam karya sastra mendapatkan makna sesuai dengan keseluruhan sistem komhniksi sastra, yakni pengarang, teks, dan pembaca. Reading as a woman menurut Suwardi Endaswara adalah membaca sebagai perempuan. Peneliti dalam memahami karya sastra harus menggunakan kesadara khusus, yaitu kesadaran bahwa jenis kelamin banyak berhubungan dengan masalah keyakinan, ideologi, dan wawasan hidup. Kesadaran khusus membaca sebagai perempuan merupakan hal yang penting dalam kritik sastra feminisme. Reading as a woman yang dicetuskan oleh Culler adalah membaca dengan kesadaran membongkar praduga dan ideologi kekuasaan laki-laki yang patriarkal.
Analisis novel dengan kritik sastra feminis berhubungan dengan konsep membaca sebagai perempuan. Karena selama ini karya sastra seolah-ola ditujukan pada pembaca laki-laki, dengan kritik ini maka munculah pembaharuan adanya pengakuan akan adanya pembaca perempuan. Hal ini dapat dikatakan untuk mengurangi prasangka gender dalam sastra. Kritik sastra feminis adalah studi sastra yang mengarahkan fokus analisisnya pada perempuan. Djajanegara berpendapat bahwa kajian feminisme ialah salah satu kajian sastra yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan.
Berdasarkan pada paparan yang telah disebutkan diatas, timbulah pertanyaan. Bagaimanakah karya sastra feminis dapat menekankan analisis gender? Karena karya sastra adalah kebebasan penulis hendak menuangkan karyanya dalam bentuk apa dan seperti apa. Bagaimanakan pengaruh latar belakang pengarang mempengaruhi karya sastra? Karena karya sastra bersifat dulce et utile.
2.    Perspektif Feminis
Penelitian sastra berperspektif feminis adalah salah satu disiplin ilmu sastra yakni kritik sastra feminis. Penelitian ini harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadi kontradisi dalam teori keilmuwan secara keseluruhan. Disiplin ini juga harus cocok dengan fakta empiris, minimal fakta empiris karya sastra. Pada ilmu sastra, feminisme berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis yakni studi sastra yang mengarahkan analisis pada perempuan. Upaya untuk mengkonkritkan wanita dalam karya sastra dilakukan dengan melihat bahwa wanita tidak hanya cukup dipandang dalam kedudukannya sebagai unsur struktur karya, tetapi perlu juga dipertimbangkan faktor pembacanya. Pembaca wanita yang membaca karya sastra sebagai wanita mempengaruhi konngkretisasi karya sastra makna teks. Sebuah teks hanya akan dapat bermakna setelah teks tersebut dibaca.
Pengalaman empirik dari sejumlah lembaga da peneliti perorangan menjadi masukan berharga untuk mengembangakan dan menyempurnakan studi wanita dalam karya sastra. Penelitian semacam ini, biasanya bersifat induktif bertujuan untuk mengembangkan kerangka teori. Data feminis dapat bersifat kualitatif, misalnya data yang mendeskripsikan status dan peran tokoh wanita dalam keluarga. Penelitian kualitatif harus diperkaya dengan analisis eksperimental dengan komponen yang diutamakan adalah asumsi, persiapa pribadi, formulasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, serta pertanyaan kebijaksanaan. Komponen asumsi adalah pendekatan subjektif yang sangat mirip dengan hal umum sehari-hari. Peneliti yang berlatar belakang mutidisiplin lebih dikehendaki karena karya sastra tidak terbatas pada terapan satu disiplin ilmu. Tidak perlu menyiapkan bacaan yang banyak untuk penelitian feminis sastra agar tidak meneliti dengan profesi yang sudah dibentuk pada dirinya. Hal yang diperlukan adalah meneliti dirinya sendiri, pengalaman pribadi sebelumnya, kehendak, harapan, misalnya tentang ketidaksukaannya untuk memahami apa yang ditelitinya. Data juga dapat berupa dokumentasi perasaan dan ide peneliti.
Kesadaran subjektivitas peneliti menjadi penting. Pengalaman pribadi peneliti dan tokoh perempuan sebagai individu yang diteliti digayutkan. Proses inilah yang disebut dengan reading as a woman. Strategi yang dapat digali salah satunya adalah mengenai seluk beluk dan kepribadian tokoh perempuan dalam sebuah karya sastra. Metodologi yang lebih penting yang dipakai adalah tidak bias laki-laki atau seksis. Feminisme dalam penelitian sastra dianggap sebagai gerakan kesadaran terhadap pengabaian dan eksploitasi perempuan dalam masyaralat seperti yang tercermin dalam karya sastra.
3.    Novel Feminis
Gerakan perempuan untuk menuntut kesetaraan gender, selain RA Kartini dengan bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, kini beberapa penulis novel pun berperan untuk menuntut kesetaraan gender melalui karya sastra. N.H. Dini, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari dan sebagainya memasukan pandangan feminis dalam novel mereka. Beberapa novel yang ditulis memiliki peran mengkritik terhadap hegemoi patriarki yang berlaku pada masyarakat sejak zaman dahulu.
Pemikiran masyarakat yang melekat mengatakan bahwa perempuan tidak bisa menjadi kuli seperti laki-laki. NH Dini prnah bercerita dan bertanya pada seorang bos di kebun teh yang melihat gaji perempuan lebih kecil daripada gaji laki-laki. Menurut bos alasannya adalah karena perempuan pekerjaannya lebih mudah, hanya memetik teh sedangkan laki-laki bertugas untuk mengangkat daun teh yang telah dipetik dari keranjang ke atas truk. Ketika Bu Dini mendengar jawaban seperti itu, ia bertanya pada perempuan pemetik teh dan bertanya apakah kuat mengangkat keranjang teh ke atas truk. Setelah diketahui, perempuan mampu mengangkat ke atas truk, ia lebih bertanya hal besar lagi terkait ketidaksetaraan ini. Perempuan mampu menggendong keranjang dari kebun teh, saat mereka memetik pun keranjang masih digendong, hingga sampai pada keluar dari kebun untuk menyerahkan hasil petikannya untuk dinaikan ke atas truk. Bu Dini berkata dan usul kepada bos agar perannya ditukar dan perempuan dapat merasakan gaji yang tinggi pula. Tapi bos berkata ‘tidak’ dengan alasan bahwa jari perempuan lebih terampil dibandingkan dengan jari laki-laki untuk memerik daun teh, maka dari itu perempuan yang ditugaskan untuk memetik sementara laki-laki menaikan keranjan ke atas truk yang dianggap memiliki tenaga yang lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Namun hal ini pun masih tidak dapat dikatakan setara karena melihat gaji yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, sementara jika dilihat pekerjaan perempuan pemetik teh lebih berat dibandinkan dengan laki-laki. Hal inilah yang melandasi NH Dini untuk lebih mengangkat novel feminis.
Mindset perempuan dikatakan tidak dapat menjadi kuli dikarenakan beberapa faktor, antara lain perempuan memiliki fisik yang lemah, tidak seperti laki-laki yang kuat. Secara psikis perempuan tidak sanggup bekerja kasar karena pekerjaan kuli dekat dengan keringat. Hal tersebut terbukti pada sentimen-sentimen tokoh perempuan. Novel feminis dapat dikatakan bertujuan untuk mempengaruhi dan membangun paradigma berfikir perempuan pembaca, untuk melakukan gerakan kesetaraan teradap dominasi laki-laki dalam berbagai bidang kehidupan. Selain itu, memeri pengertian kepada laki-laki agar tidak merendahkan perempuan. Secara ideologis, aplikasi teori feminisme dalam pengkajian sastra, yakni novel sebagai objek kajian merupakan karya penulis perempuan dan diteliti oleh serang peneliti perempuan. Karena banyak pandangan yang mengatakan bahwa hal itu lebih baik diteliti oleh antropolog perempuan ketimbang laki-laki. Karena sesama perempuan akan lebih dalam berkomunikasi dan dapat merasakan hal yang sama.
Beberapa cerita novel yang beredar, sebagian besar yang membahas masalah cinta adalah tentang perempuan. Perempuan dilambangkan sebagai benda yang sangat langka dan diperebutkan oleh banyak kaum adam. Tubuh perempuan memang memiliki daya tarik  tersendiri untuk laki-laki. Tidak hanya pada tubuh secara fisik yang digambarkan dengan sangat indah dan aduhay, beberapa karya sastra pun banyak yang berfokus pada masalah seksual. Kemenarikan tubuh perampuan menjadi daya tarik bagi laki-laki. Hingga memberikan ide untuk seniman. Seni rupa yang mewujudkan keindahan tubuh perempuan dalam bentuk gambar. Seni musik yang melantunkan bagaimana tubuh perempuan yang dipuja dan sangat disenangi oleh lelaki. Bahkan hingga seni pertunjukan yang menggambarkan keindahan perempuan dengan beberapa aktor lelaki memperbutkan hingga adanya pertumpahan darah. Legenda yang ada di Indonesia pun muncul sebagian besar karena masalah perempuan. Baik dua kerajaan yang memperbutkan perempuan, ada perempuan lain yang iri dengan perempuan satu sehingga bermain dukun dan lainnya, sampai pada peran ibu yang dihormati dan mengutuk anaknya karena durhaka. Kisah nabi Adam yang diturunkan ke bumi pun kareana faktor perempuan.
Meskipun banyak peran perampuan yang mendominasi karya sastra, dibalik sebuah karya ada pengarang yang menginginkan sebuah krtitik di dalamnya. Melontarkan pendapatnya dengan lebih leluasa, membeberkan pandangan pengarang akan paradigma dan kritik pengarang terhadap hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Karya sastra memang bukanlah kisah nyata yang dituliskan dalam pengarang. Namun dalam kefiksian tersebut, penulis dapat dengan leluasa mengkhayal dan berfikir sesuka dan sekena hati penulis.
4.    Pengarang dan Karya Sastra
Pengarang dalam karya sastra sering mengangkat tubuh dan seks perempuan dalam mengkonstruksi ceritanya. Seks dan tubuh perempuan menaik bagi pengarang laki-laki untuk menjadikan tema dan mengembangkannyad dalam karya sastra. Eksploitasi tokoh dalam cerita berkaitan erat dengan ideologi kapitalisme yang menempatkan perempuan sebagai alat reproduksi. Eksistensi seks dan pengarang karya sastra pengarang laki-laki sering mendapatkan kritik, tidak hanya dari perempuan saja, laki-laki yang mendekonstruksi hegemoni laki-laki terhadap perempuan sering mengkritik lewat karya sastranya. Lahirlah karya sastra yang memebri kritik sekaligus memberikan motivasi kepada kaum hawa melalui karya sastra.
Terlepas dari kepengarangannya, pengarang laki-laki sering mengangkat perempuan sebagai objek dalam karya sastranya. Dalam penceritaannya, tokoh perempuan selalu tertindas oleh kaum laki-laki. Salah satu laki-laki yang menceritakan perempuan dalam novelnya adalah Ahamad Tohari (AT)  yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk dan Bekisar Merah. AT menghasilkan karya sastra yang lebih dekat dengan pengalaman hidupnya di desa. mengangkat persoalan budaya, politik, sosial, seni, dan perempuan dalam karya sastranya. Eksistensi karya sastra tidak terlepas dari peniruan peristiwa dalam kehidupan masyarakat. Karya sastra dapat dikatakan sebagai ungkapan pengarang terhadap pengalaman dan kehidupannya.
Kedua novel AT tersebut memiliki kisah yang didominasi oleh peristiwa seks, seperti jual beli seks, dan perkawinan. Penindasan pada perempuan terletak pada pemikiran yang kontradiktif, yakni pemertahanan budaya lokal dan jual beli tubuh perempuan sebagai pelaku yang tertindas. Peristiwa tersebut adalah ungkapan dari pengarang untuk menggambarkan peristiwa penindasan terhadap kaum perempuan di karya sastranya. Meski AT bukan seorang perempuan, namun pada beberapa novel, khususnya novel Ronggeng Dukuh Paruk, ia menunjukan kepawaiannya dalam berkarya sastra yang berbau feminisme. Sehingga penciptaan perempuan pada lakon tersebut  menjadi leih hidup dan mirip dengan realitas yang ada. Telihat pada kisah Srintil (nama tokoh dalam Ronggeng Dukuh Paruk) yang mengalami konflik batin sebagai seorang penari ronggeng
5.    Seks dan Gender
Kajian terhadap perempuan memiliki konsep utama yang harus dipahami adalah antara perbedaan seks dan gender. Dua hal tersebut adalah konsep yang berbeda. Pembedaan konsep tersebut perlu digunakan untuk memahami ketidakadilan sistem sosial. Hal ini karena kurangnya pemahaman yang baik mengenai perbedaan antara konsep seks dan gender.
Seks adalah sesuatu yang given dan setiap orang memiliki naluri/dorongan seksual secara biologis. Esensialisme seks secara alamiah, setiap orang pada dasarnya adalah heteroseksual dalam katagori perempuan dan laki-laki. Di luar hal itu, dianggap tidak normal dan menimpang yang kemudian harus disembuhkan karena dianggap sebagai penyakit. Antropologi melihat variasi seksual pada perilaku seks yang dipandang masyarakat dengan berbeda dipengaruhi oleh kebudayaan. Adanya pengaruh gerakan feminisme yang mempertanyakan hak reproduksi pada seorang perempuan yang aborsi. Tampak terlihat pada kutipan novel AT dalam Ronggeng Dukuh Paruk dimana tokoh utama, Srintil yang harus mematikan rahimnya agar menjadi ronggeng secara utuh. Dimana ia harus melakukan hubungan seks dengan beberapa lelaki setiap malam-malam tertentu. Dukun menyarankan Srintil untuk mematikan rahimnya (indung telur) agar ketika Srintil ditiduri oleh beberapa lelaki, ia tidak akan hamil. Kegiatan ini merupakan kegiatan memutus reproduksi. Tokoh memiliki konflik batin, dimana ia ingin seutuhnya menjadi seorang ronggeng, namun sebagai seorang perampuan, ia pun ingin merasakan memiliki anak dan menjadi seorang ibu. Cara pandang kontruktifisme memiliki cara pandang yang berbeda-beda, banyak ragam yang melihat seks sebagai sesuatu yang dinamis. Adanya perbedaan yang fundamental antara laki-laki dan perempuan.
Istilah gender berbeda dengan seks atau jenis kelamin, menunjuk pada perdebatan antara laki-laki dan perempuan secara biologis. Gender lebih mendekati pada arti jenis kelamin dari sudut pandang sosial, seperangkat peran seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki dan perempuan pada umumnya. Gender adalah jenis interpretasi sosio-kultural, seperangkat peran yang dikonstruksi oleh masyarakat bagaimana menjadi lelaki (sosok yang kuat) dan perempuan (sosok yang lembut). Seperangkat ini pula mencangkup pada penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, seksualitas, dan sebagainya.
Pembentukan peran gender tidak hanya karena pembentukan secara biologis. Adanya sosialisasi atau akulturasi budaya dapat mempengaruhi sifat dan peran gender. Sesuatu yang tidak alamiah dapat diubah, peran gender bukanlah hal yang alamiah, sehingga perannya dapat diubah melalui budaya/teknologi. Pandangan semacam ini, sebagian besar dianut oleh feminis yang menginginkan trasnformasi sosial, sehingga perbedaan atau dikotomi peran gender laki-laki dan perempuan dapat ditiadakan.
Seksualitas adalah aspek kehidupan yang menyeluruh, menyangkut seks, gender, orientasi seksual, erotisme, kesenangan, keintiman, dan reproduksi. Seksualitas dialami dan diekspresikan dalam pikiran, fantasi, hasrat, kepercayaan, nilai, tingkah laku, kebiasaan, peran, dan hubungan. Seksualitas dapat dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, politik, sejarah, agama, dan spiritual.
Pada kamus sosiologi disebutkan bahwa semua varian teori feminis cenderung mengandung tiga unsur pokok. Pertama, gender adalah suatu konstruksi yang menekan kaum perempuan, sehingga menguntungkan kaum laki-laki. Kedua, konsep patriarki dalam lembaga sosial dianggap sebagai landasan utama konstruksi tersebut. Ketiga, pengalaman dan pengetahuan kaum hawa harus dilibatkan dalam perkembangan suatu masyarakat non seksis di masa mendatang. Secara umum, feminisme adalah ideologi pembebasan perempuan. Hal ini nampak pada semua pendekatan yang digunakanya yang berkeyakinan bahwa perempuan dianggap tertindas dan mengalami ketidakadilan akibat jenis kelaminnya.
6.    Kritik Sastra Feminis, Masyarakat, dan Kebudayaan
Bidang ilmu yang sangat dekat dengan kritik sastra feminis, salah satunya adalah sosiologi. Curry mengatakan bahwa konstruksi gender yang terjadi dalam sistem sosial masyarakat adalah salah satu problem sosiologi yang mengakibatkan terjadinya marginalisasi terhadap perempuan. Menurut teori konflik yang dikemukakan, tidak adanya persamaan antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh lemahny posisi perempuan dalam sistem stratifikasi sosial. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa seagai mediumnya. Bahasa pada hakekatnya adalah ciptaan sosial yang menampilkan gambaran kehidupan sosial.
Sastra adalah cermin dari sistem sosial yang ada dalam masyarakat, sistem kekerabatan, ekonomi, politik, pendidikan, dan kepercayaan yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan. Sastra adalah cermin dari sistem ide dan nilai, gambaran tentang apa yang dikehendaki dan aa yang ditolak oleh masyarakat. Gaya bahasa adalah cara yang digunakan untuk menyatakan maksud dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya. Kritik sastra feminis pada dasarnya bukan sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, namun memiliki hubungan yang sangat erat dengan ilmu yang lainnya.
Jika bahasa adalah alat reproduksi gender, maka sastra diharapkan berperan sebaliknya, yakni sebagai realitas tandingan yang dapat menihilkan bahasa sebagai alat legitimasi realitas keseharian yang dominan. Perempuan dalam karya sastra ditampilkan dalam kerangka hubungan yang ekuivalen dengan seperangkat tata nilai marginal dan yang tersubordinasi lainnya. Oleh tata nilai marginal tersebut, perempuan hampir selalu terbentur pada batas untuk selalu ditampilkan sebagai tokoh yang harus dibela atau korban yang selalu dihimbau untuk mendapatkan perhatian.
Barret (melalui Selden, 1991: 142) memberikan analisis feminis yang bersifat marxis tentang penggambaran jenis kelamin, antara lain :
1.    Barret sependapat dengan pendapat seorang matrealis yang bernama Virgia Wolf yang menyatakan bahwa secara material, ada kondisi yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam menghasilkan kesusstraan. Kondisi ini sekaligus mempengaruhi bentuk dan isi tulisan mereka.
2.    Ideologi jenis kelamin mempengaruhi cara baca hasil penulisan laki-laki dan perempuan.
3.    Barret juga memberikan masukan bahwa para kritikus feminis harus memperhitungkan kodrat fiksional teks-teks sastra dan tidak begitu saja mengutuk semua penulis pria yang memamerkan seksisme dalam buku mereka dan bersetuju dengan para penulis wanita untuk mengangkat persoalan jenis kelamin. Pendapat tersebut berpedoman pada teori yang mengungkapkan bahwa sebuah teks tidak mempunyai arti tetap dan mengandung tafsiran yang bergantung pada keadaan dan ideologi pembaca.
Keberadaan karya sastra yang dihasilkan oleh pengaang memiliki latar belakang mengapa karya sastra tersebut dapat tercipa. Layakna seorang anak yang menuliskan status dalam akun media sosialnya, misalnya facebook, pasti memiliki alasan dan tujuan tertentu. Alasan dan tujuan tersebut dilatar belakangi oleh faktor-faktor yang mendukung si anak menulis. Faktor yang nampak adalah faktor lingkungan, pikiran, dan isi hati si anak. Begitupula pada seoang pengarang yang memilih menjadikan karya sastranya memiliki isi dan hasil yang seperti apa adalah ungkapan pemikiran hati seorang pengarang. Termasuk pula karya sastra yang berbau feminisme. Pada paragraf sebelumnya telah dijelaskan mengenai NH Dini yang dikataksn sebagai novelis yang megangkat karya sastra berbau feminisme. Percakapan dengan NH Dini beberapa waktu silam, menampilkan sebuah kesan mengenai alasan Ibu Dini memilih feminisme daripada tema lainnya dalam karya sastranya.
Jika dibandingkan denga AT, ia menuliskan karyanya berdasarkan pengalaman dan peristiwa yang nampak di sekitarnya. AT tinggal di sebuah desa darah Banyumas, kedesaannya juga nampak pada panggilannya pada sang ibu, AT memanggil ibunya dengan nama ‘biyung’. Pertemuan dan percakapan dengan AT beberapa waktu silam, menerangkan bahwa ia tinggal di desa, tidak malu dengan kedesaannya, dan hal itulah yang membuatnya semakin berkarya. Nampak pada hampir sebagian besar karya sastra AT menggambarkan suasana yang begitu detail dan jelas. Semua lingkungan yang ia rasakan untuk menggambarkan imajinasinya, disebutkan secara menyeluruh sehingga pembaca akan dengan baik memahami setting latar yang akan diceritakan oleh AT dalam karya sastranya. Berlatar belakang desa dan kehidupan miskin selalu ditonjolkan oleh AT dalam novel dan cerpennya.
Dua tokoh yang telah disebutkan diatas, menjelaskan bahwa latar belakang seorang penulis sangat mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. Hal, peristiwa, dan pemikiran yang ada dalam benak penulis akan tergambarkan pada hasil karya sastranya. Baik berdasarkan latar belakang, pengalaman, pemikiran, atau hal lain yang menjadikan pemikirannya semakin matang untuk mengasilkan karya sastra.
7.    Simpulan
Munculnya ide-ide feminis bermula dari kenyataan bahwa keadaan yang memperlihatkan belum ada kesejajaran antara hak laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial bermasyakat. Kesadaran tersebut yang kemudian melahirkan kritik feminis. Perwujudannya dapat dilakukan dengan berbagai hal, misalnya pada sikap, karya sastra yang dihasilkasan, atau media lain yang memungkinkan untuk dapat menyampaikan gagasan atau ide sebagai bentuk feminis terhadap pandangan sosial yang ada di masyarakat.
Kritik sastra feminis, meletakkan teori feminisme menjadi landasan dasar pemikiran. Sugihastuti dan Suharto (2002:20) mnyatakan bahwa kritik sastra feminis memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia. Feminisme muncul sebagai akibat adanya prasangka gender yang memandang perempuan sebagai kelas dua. Pandangan semacam ini tidak hanya nampak pada lahiriah, tetapi juga pada struktur sosial budaya di masyarakat.
Karya sastra feminis dapat menekankan analisis gender, jika pembca telah memahami dan membaca dengan baik hasil karya sastra tersebut. Menggunakan pemahamannya untuk melakukan kritik sastra secara objektif dengan meliat karya sastra berdasarkan pembacanya. Jika hanya melihat karya sastra secara objektif, atau melihat karya sastra melalui karya sastra itu sendiri akan menampilkan kritik sastra yang kurang kritis. Karena hanya melihat dari segi estetika dan mimetiknya.
Menilai karya sastra dan kritik sastra juga sebaiknya melihat pada later belakang pengarangnya. Hal ini ditujukan untuk mengetahui alasan pengarang membuat judul demikian dan membuat seting cerita yang demikian. Judul, alur, tema, setting, dan semua unsur intrinsik dalam karya sastra telah dipikirkan oleh pengarang dalam bentuk sepreti apa nantinya. Kritik sastra yang baik, tidak hanya melihat unsur intrinsiknya saja, melainkan pada unsur ekstrinsiknya pula. Tujuannya adalah memahami bagaimana pikiran dan latar belakang pengarang dengan karyanya. Meski dalam mengkritik karya sastra, pengarang dianggap sudah mati dan tidak diizinkan untuk menolak kritikan dari pihak manapun.
Melihat karya sastra dari sudut pandang antropolog, memerlukan berbagai ilmu bantu lainnya agar menghasilkan pandangan dan paradigma yang lebih luas lagi. Bukan hanya sekedar melihat sastra dari hasil karya sastra itu sendiri. Tetapi perlunya ilmu dan pengetahuan lain untuk lebih memahaminya. Feminisme dekat kaitannya dengan gender dan seksualitas. Sembari memahami isi dari karya sastra, latar belakang penulis, memahami unsur karya sastra dari segi intrinsik dan ekstinsik, melihat karya sastra sebagai dulce et utile, perlu juga pemahaman mengenai seksualitas dan gender. Karya sastra dihasilkan oleh manusia. Manusia itu berfikir dan fikiran maunusia dapat dikonstruksi oleh pemikirannya yang telah terbentuk. Pemikiran yang telah terbentuk itu diperoleh hasil dari membaca, pengalaman, dan pengetahuan pengarang. Sastra feminisme, tidak hanya ditulis oleh perempuan saja. Melainkan pengarang laki-laki pun dapat menulisnya karena ia pun memiliki pengalaman dengan perempuan atau pengetahuan lainnya. Meski dalam batin, laki-laki kurang memahami dengan detail mengenai perasaan perempuan. Setiaknya, pengarang laki-laki pun dapat menuangkan pendapat terkait feminisme. Begitu pula dengan pembaca laki-laki. Berawal dari ketidak tahuan mengenai perasaan perempuan, ketika lelaki membaca karya sastra feminis, ia akan memahami bagaimana kritik feminis itu ada dan berjalan. Diharapkan pula dengan adanya kritik feminisme dari sebuah karya sastra, akan adanya sebuah kesetaraan gender dalam memandang laki-laki dan perempuan.

Daftar Pustaka
Alfian Rokhmansyah. 2014. Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Moore, H.L. 1998. Feminisme dan Antropologi. Jakarta: Obor.
Pusat Bahasa Al Ahzar. Kritik Sastra Feminisme. Pusatbahasaalahzar.wordpress.com ( 17 Desember 2016).
Sugihastuti.1998. Penelitian Kualitatif Sastra berperspektif Feminis. Jurnal UGM.
Vance, C.S. 1989. Social Construction Theory: Problem in The History of Sexuality. Amsterdam: An Dekker
__________1999. Culture, Society, and Sexuality. London: UCL Press

2 komentar:

  1. Ini tulisan yang bagus bagi yang mau diantarkan soal paradigma antropologi kritis posmodern, khususnya tentu pada perpsektif feminisme.

    Etnografi klasikpun juga demikian, Mbak. Mayoritas etnografer klasik dan pria yang secara tak sadar kerap menomorduakan posisi wanita. Setelah muncul etnografer wanita seperti Ruth Benedict dan Margaret Mead, malah vice versa sama yang barusan. Saat ini, kehadiran feminisme menjadi pemikiran yg kritis dan wajar untuk menyeimbangkan paradigma antropologi untuk menelaah masalah kontemporer yang rumitnya bukan main

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada buku bagus nggak bang, buat saya baca. terkait pemikiran yg kritis dan wajar untuk menyeimbangkan paradigma antropologi untuk menelaah masalah kontemporer yang rumitnya bukan main?
      penasaran... :D

      Hapus