belajar menulis dengan beberapa tugas yang telah ada dan beberapa hal yang ingin disampaikan dengan metafora. selamat membaca, oh ya.. jika hendak mengutip beberapa info dari blog ini, mohon sertakan sumbernya ya.. ingat plagiat itu tidak baik lho. salam.... ws.ningrum

BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
wo shi filolog wo ye shi antropolog. dui, wo xi huan hanyu. jika ada yang mau kenalan, boleh kirim e-mail kakak :D oya, ws ningrum shi: windi susetyo ningrum
Diberdayakan oleh Blogger.

w.s.ningrum

w.s.ningrum
爱,我明白如果上帝不睡觉 我相信

5 Jul 2019

Sejarah Kesenian Soreng Bandungrejo



Halaau teman-teman semuanyah...



pembaca setia blog akuh, pernahkan kalian mendengar nama desa Bandungrejo? jika sudah pernah mendengar, apa pernah kesana? atau malah ketagihan ingin kesana lagi? hhihihi... Jika pernah mendengar nama Bandungrejo pasti mendengar pula sebutan 'desa seni' ya kan? ngaku.... pernah ditayangkan di trans tv kok, tapi yaa gitu... ingin kuberkata kasar, tapi ada yang menahanku lembut.
sebagai peneliti dan singgah dalam jangka waktu lama disana, aku tak rela jika ada informasi yang salah, terkait Bandungrejo :( sedih aku tuh.

ooops,
penasaran sama acara tv nya itu yah?
but, aku sendiri mengucapkan terima kasih atas tayangannya, sehingga keluargaku bisa dikenal dan diketahui oleh nusantara. Gambarnya bagus kok. :) gambarnyaaa… asli dan asri.
Ummm, ini nih untuk yang penasaran dengan film alias video singkat tersebut, bisa dilihat disini... https://www.youtube.com/watch?v=n5tRrcvwq28 (mulai menit ke 03.00-05.25 dan juga menit ke 12.28 – 15.27



Desa Bandungrejo memang memiliki banyak kreasi tari. Memang anak-anaknya pinter nari hihiii… dari sekian banyak itu, tarian yang paling terkenal dan paling kondang adalah tari Soreng. Semua tarian bagus, tapi ada sesuatu nih dengan Soreng itu sendiri. Sesuatunya adalah dia yang pertama kali hadir dan muncul di Bandungrejo. Prestasinya pun sudah kemana-mana. Sudah masuk ke beberapa surat kabar juga kok :D Soreng pun sering dijadikan bahan penelitian dan banyak yang ingin mempeajari tariannya. Karena aku bukan dari jurusan tari, jadi aku enggan dan sungkan untuk membicarakan dari segi tarian itu sendiri. Diriku akan menyoroti dari bidangkuh, antropologi tentunya.

Oya, untuk yang penasaran dengan ‘tariannya itu kaya gimana sih?’ bisa dilihat disini sayang…. https://www.youtube.com/watch?v=qEQ3BdLdc8E terima kasih yaa untuk DISTRO HELMETZ GRABAG atas publikasinya di Youtube, sehingga pembacaku dapat menyaksikan Soreng jarak jauh.
 Di catatan ini, aku hanya ingin menceritakan mengenai sejarah Soreng di Bandungrejo saja. Sementara tarian lain nanti yah… hihihi. Sebentar… but, semua tarian ada di tesis aku kok. Hohohoo… lengkap pokoknya.

Baiklah semuanya, langsung saja kita kepoin Sejarah Soreng Bandungrejo.
oiya, artikel ini merupakan penggalan dari buku yang aku dedikasikan untuk anak-anak Soreng Bandungrejo. Jadi, ini hanya penggalan. Semenatara mereka lebih lengkap.

Selamat membacaaa….. :D

Kesenian soreng, mengambil cerita dari kisah Haryå Penangsang.

What  is the  Meaning  of  Sorêng?

Sampai saat ini, mungkin banyak yang menanyakankan “apa itu Soreng?” atau “Apa sih artinya Soreng?” atau mungkin pula “berasal dari kata apa, nama tersebut?” “Beberapa mengatakan Arya Penangsang, beberapa juga mengatakan Haryo Penangsang, mana yang benar?”
Soreng merupakan akronim dari surå dan ing atau dalam bahasa Indonesia adalah “berperang di”. Nama surå ing  semakin lama menjadi surå eng dan sampai saat ini lebih enak dan dikenal dengan sebutan sorêng. Secara luas, memiliki arti ketika diajak untuk berperang dimanapun dan kapanpun, mereka siap untuk melaksanakannya. Hal ini nampak terlihat pada prajurit Adipati Harya Penangsang yang setia dan patuh pada tuannya.
Sementara untuk aksen sendiri, dalam aksara Jawa, jika transliterasikan menajdi “Harya Penangsang” dalam aksen tersebut, terkadang huruf ‘ha’ sering dibaca dengan ‘a’ saja. Dari bebrapa sumber, wikipedia, babad tanah jawi, dan ensiklopedia tertulis dengan nama ‘Haryå Penangsang’. Maka dari itu, pembahasan dalam buku ini akan menggunakan aksen tersebut.
Cerita singkat mengenai alur yang dibawakan dalam tari Soreng adalah sebagai berikut :
Tari sorêng menggambarkan tentang peperangan yang dilakukan oleh Adipati Haryå Penangsang dengan Danang Sutawijaya yang terjadi pada abad ke-16. Pada masa tersebut, masih dalam masa kerajaan yang masih suka saling membunuh untuk memperebutkan kekuasaan dan hanya demi takhta. Begitu pula pada kisah ini.
Who  is  Haryå  Penangsang?
Menurut silsilah yang tertuang dalam Serat Kanda, ayah dari Haryå Penangsang adalah Raden Kilin atau Pangeran Sekar, putra dari Raden Patah (Raja Demak yang pertama). Ibu Raden Kilin ialah putri Bupati Jipang, maka Haryå Penangsang dapat mewarisi kedudukan kakeknya. Disisi lain, ia memiliki saudara tiri bernama Haryå Mataram.
Pada tahun 1521, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (Putra sulng Raden Patah) gugur ketika melakukan penyerangan ke Malaka yang kala itu dikuasai oleh portugis. Hal ini menjadikan adanya perebutan takhta oleh adik-adiknya, yakni Raden Kilin dan Raden Trenggåna. Raden Mukmin atau Sunan Prawoto (Putra sulung Raden Trenggåna) membunuh Raden Kilin dengan menggunakan keris Kyai Seran Kobêr yang dicurinya dari Sunan Kudus. Raden Kilin dibunuh di tepi sungai. Sejak saat itu, ia dikenal dengan nama Pangeran Sekar Sedå ing Lêpên (Bunga yang gugur di sungai).
Sepeninggal ayahnya, Haryå Penangsang menggantikan posisi ayahnya sebagai Bupati Jipang Panolan. Karena pada saat itu usianya masih kanak-kanak, maka pemerintahannya diwakili oleh Patih Mentaun.
State  and  Revenge
Pada tahun 1521, Raden Trenggåna naik takhta di Kerajaan Demak. Pemerintahannya gugur pada tahun 1546. Posisi tersebut kemudian beralih pada Raden Mukmin, ia menjadi raja keempat yang bergelar Sunan Prawoto.
Pada tahun 1549, Haryå Penangsang ingin membalas dendam kematian ayahnya dengan dukungan gurunya. Ia meminta salah satu anak buahnya bernama Rangkut untuk membunuh Sunan Prawoto dengan keris yang sama ketika ayahnya dahulu dibunuh. Namun, ada kabar yang menyatakan Rangkut pun tewas setelah melakukan tugasnya. Aksi pembunuhan tersebut diketahui oleh Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawoto. Ia meminta pertanggungjawaban atas tewasnya sang kakak pada Sunan Kudus. Namun diacuhkan oleh Sunan Kudus. Di tengah perjalanannya kembali ke Jepara, ia dihadang oleh anak buah Haryå Pengsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sementara suaminya (Pangeran Hadari) terbunuh.
Haryå Penangsang mengirim empat orang anak buahnya untuk membunuh Hadiwijåyå (menantu Raden Trenggåna yang menjadi bupati Pajang). Meskipun keempat utusan tersebut sudah dibekali dengan Keris Kyai Setan Kobêr, mereka tidak berhasil membunuh Hadiwijåyå. Mayatnya dipulangkan secara hormat. Malahan, Hadiwijåyå mendatangi Haryå Penangsang untuk mengembalikan keris tersebut. Hal ini justru membuat pertengkaran diantara kedua orang tersebut, untungnya berhasil didamaikan oleh Sunan Kudus. Usai masalah tersebut, Hadiwijåyå kembali ke Pajang dan Haryå Penangsang disuruh untuk berpuasa selama 40 hari untuk menghilangkan Tuah Rajah Kalacakra[1]. Konon, Haryå Penangsang melakukan puasa juga untuk menambah kesaktiannya. Selama 40 hari tersebut, ia pun harus menahan emosinya.
Competition  of  Murder
Di perajalanan pulang ke Pajang, rombongan Hadiwijåyå singgah ke Gunung Danaraja (tempat bertapa Ratu Kalinyamat). Di tempat tersebut, Ratu Kalinyamat mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto. Ia berjanji jika ada yang berhasil mengalahkan Haryå Penngsang, ia akan menyerahkan Demak dan Jepara. Jika Hadiwijåyå dapat mengalahkan Haryå Penangsang.
Disisi lain, Hadiwijåyå enggan memerangi Haryå Penangsang karena sesama murid Sunan Kudus. Siasatnya pun berubah dengan mengadakan sebuah sayembara, hadiah yang ditawarkan adalah tanah Pati dan Mataram.
Sayembara tersebut didengar oleh telinga kedua kakaknya, yakni Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Usai mereka mendaftar sayembara, dibekalinya dengan senjata yang bernama Tombak Kyai Plered. Konon, Haryå Penansang hanya dapat dikalahkan dengan senjata tersebut. Namun ketika di medan perang yang melawan adalah Danang Sutåwijåyå (putra kandung Ki Ageng Pemanahan).
 A  Challenge  Letter
Kala itu, Haryå Penangsang masih melaksanakan puasa, di hari yang ke-40nya. Surat tantangan tersebut datang ketika ia sedang berbuka puasa, ia tidak dapat menahan emosi terlebih lagi dikarenakan surat tersebut atas nama Hadiwijåyå. Ditambah lagi, surat tersebut dibawa oleh Pekathiknya[2], ditempelkan pada telinga si Pekathik yang sebelumnya daun telinganya sudah dipotong oleh Ki Ageng Pemanahan dan Penjawi. Beberapa orang berusaha untuk menenangkan emosinya, tetapi tidak ada satu pun yang dapat menahan emosi Haryå Penangsang, hingga akhirnya ia meminta dibawakan Gagak Rimang (kuda hitam Haryå Penangsang).
The  War  and  The  End  of  Haryå  Penangsang
Usai membaca surat tantangan tersebut, ia berangkat ke medan perang dengan menunggangi Gagak Rimang dan dipenuhi oleh nafsu amarah. Surat tantangan tersebut meminta untuk bertemu di Bengawan Sore[3] dan berperang.
Ketika sudah sampai Bengawan Sore, ia mencari Hadiwijåyå namun yang ia lihat hanyalah seorang anak kecil, bernama Danang Sutåwijåyå yang sedang menunggangi kuda betina putih dan membawa Tombak Kyai Plered di sebrang sungai. Ketika melihat kedatangan Haryå Penangsang, Sutåwijåyå mengucapkan kata-kata tantangan, dalam bahasa Indonesia yang berarti “hai Penangsang, lawanlah aku jika kamu memang berani!” Merasa dirinya ditantang oleh seorang anak kecil, ia semakin marah dan emosinya semakin menjadi-jadi. Namun Haryå Penangsang tetap tidak mau menyebrangi sungai tersebut.
Menurut kepercayaan orang Jawa, orang sakti jika melewati sungai, maka kekuatannya akan hilang. Kesaktiannya akan berkurang dan/atau bahkan hilang. Konon, hilangnya kesaktian tersebut karena terbawa arus sungai. Konon pula, ada yang mengatakan, jika orang sakti berada di luar daerah kekuasaannya, maka kekuatan tersebut akan berkurang bahkan hilang. Hal ini pun di pegang teguh oleh Haryå Penangsang.
Kala ini, saling meneriakan agar salah satu ada yang menyebrang sungai. Teriakan tersebut yakni ‘wetan kali’ (timur sungai) dan ‘kulon kali’ (barat sungai). Pihak Hadiwijåyå menginginkan Haryå Penangsang agar menyebrangi sungai agar kekuatannya hilang. Ia menggunakan beberapa cara agar mau menyebrang.
Meskipun ia masih dapat menahan diri untuk tidak menyebrang sungai, namun tidak dengan Gagak Rimang. Kala itu, Sutåijåyå menunggangi kuda betina yang putih bersih. Nafsu Gagak Rimang dipancing, hingga akhirnya ia semakin liar, memberontak dan hingga tidak dapat dikendalikan oleh tuannya dan pergi ke seberang sungai untuk mendekati kuda betina tersebut.
Pertempuran tersebut terjadi di Bengawan Sore. Peperangan antara Haryå Penangsang dan Danang Sutåwijåyå terjadi. Kala itu, Haryå Penangsang tertusuk tombak tersebut dan mengenai perutnya. Hal ini mengakibatkan ususnya terurai, namun ia masih hidup. Walaupun kesakitan, ia masih dapat bangkit dan melingkarkan ususnya pada keris yang terselip di belakang pinggangnya. Sementara keadaan Sutåwijåyå sendiri sudah tidak berdaya karena serangan yang dilakukan oleh Haryå Penangsang sebelumnya.
Ketidak berdayaan Sutåwijåyå saat itu, semakin meningkatkan nafsu Haryå Penangsang untuk membunuhnya. Setelah mendekati Sutåwijåyå yang sedang tersimpuh tak berdaya, ia menginjak dadanya. Melihat anaknya sedang dalam keadaan bahaya, Ki Ageng Pemanahan tidak tega. Ia melihat usus Haryå Penangsang melingkar di kerisnya. Melihat dua kejadian tersebut, Ki Ageng Pemanahan berpura-pura memihak pada Haryå Penangsang untuk membunuh Sutåwijåyå dengan Keris Setan Kobêr miliknya.
Nafsu Haryå Penangsang yang sudah memuncak sampai ubun-ubun, keadaan Sutåwijåyå pun sudah semakin tidak berdaya, ditambah lagi dengan dukungan pihak lawan untuk membunuh anak kecil tersebut. Hal itu semakin meyakinkan dirinya untuk segera menghabisi lawannya itu. Seketika juga ia menarik tangannya ke belakang. Dicabutlah keris tersebut dengan penuh nafsu. Namun ia lupa dan tidak menyadari bahwa ususnya berada disana. Kala ia mencabut kerisnya, kala itu pula ususnya terpotong, hingga akhirnya tewaslah Haryå Penangsang.




[1] Rajah yang digunakan oleh Haryå Penangsang untuk membunuh Danang Sutawijaya. Namun rajah tersebut justru mengenai dirinya karena emosi Haryå Penangsang yang kala itu sedang labil.
[2] Abdi Haryå Penangsang yang bertugas memelihara kuda
[3] Nama sungai




sumber
Ahli. pengertianmenurutparaahli.net [10 Januari 2018]
Scribd. Arya Penangsang. Scribd.com [16 Februari 2018]
Wikipedia. File: Serat Babad Tanah Jawi. en.wikipedia.org [16 Februari 2018]




2 komentar:

  1. ndi windi ijeh ileng q ra? q panji...

    BalasHapus
  2. panji kembarane pandu, jaman nek semarang kae lho.... ni blogspot kamu y?

    BalasHapus