belajar menulis dengan beberapa tugas yang telah ada dan beberapa hal yang ingin disampaikan dengan metafora. selamat membaca, oh ya.. jika hendak mengutip beberapa info dari blog ini, mohon sertakan sumbernya ya.. ingat plagiat itu tidak baik lho. salam.... ws.ningrum

BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
wo shi filolog wo ye shi antropolog. dui, wo xi huan hanyu. jika ada yang mau kenalan, boleh kirim e-mail kakak :D oya, ws ningrum shi: windi susetyo ningrum
Diberdayakan oleh Blogger.

w.s.ningrum

w.s.ningrum
爱,我明白如果上帝不睡觉 我相信

30 Nov 2017

The Devil and Commodity Fetishism in South America (Michael T. Taussig)


Halo semuanya, pada kali ini saya ingin membagikan sedikit review saya dan teman sekelompok tentang salah satu buku dalam mata kuliah Antropologi Kekuasaan. Buku ini terbagi dalam 3 part, dan kami bagi tiga. Review ini adalah salah satu tugas kelompok antara saya, mas Yanuardi Sukur, dan mas M. Ardi Pritadi. Buku yang sangat menarik bagi kami, tentang 'setan dan komoditas fetishisme di Amerika Selatan'. Semoga catatan kecil ini dapat membantu teman-teman dalam memahami buku aslinya. terima kasih dan selamat membaca ^^

The Devil and Commodity Fetishism in South America
Michael T. Taussig

Sekilas tentang penulis
Michael T. Taussig adalah seorang antropolog Australia yang lahir di Sidney, 3 April 1940 dari keturunan Jerman. Taussig menyelesaikan pendidikan menengah pada tahun 1958 di North Sydney Boys High School. Ia mendapatkan gelar medis dari University of Sidney, menerima gelar antropologi di London Schools of Economic, dan merupakan professor di Columbia University. Beliau telah menerbitkan buku tentang antropologi medis, ia terkenal karena pertunangannya dengan gagasan Marx tentang fetishisme komoditas. Taussig menulis buku yang berjudul The Devil and Commodity Fetishisme In South America pada tahun 2010.

Book Review
Buku berjudul The Devil and Commodity Fetishism in South America ini ditulis oleh Michael T. Taussig (2010) membahas tentang keterkaitan asosiatif antara ‘setan’ dengan kapitalisme. Buku ini secara detail menuliskan teori dan konsep soal kapitalisme. Maka, beberapa kata kunci seperti komoditas, fetishisme, alienasi, dan lain-lain akan dipertautkan dengan perihal metafisika. Uniknya, pertautan yang demikian seringkali memperbincangkan eksistensi kekuasaan pada praktiknya dalam beberapa studi kasus di Amerika Selatan era penjajahan dan beberapa tahun setelah penjajahan. Karena saat itu merupakan era ketika Amerika Selatan sedang beranjak melalui perubahan sosial budayanya, sehingga pertautan dua kubu tersebut akan memunculkan kontestasi kekuasaannya masing-masing: mana yang akan ‘bertahan hidup’?
            Pada bab 1 berjudul “Fetishisme dan Dekonstruksi Dialektika (Fetishism and Dialectical Deconstruction)” mencoba menafsirkan gagasan eksotis orang-orang di Kolombia dan Bolivia berkaitan dengan relasi antara pemaknaan produksi kapitalisme penjajah dengan kehidupan ekonomi sehari-hari penduduk lokalnya (p.3). Petani lokal hidup dalam kungkungan produksi kaum penjajah sebagai kolektif borjuis pemegang modal produksi kapitalisme. Berangkat dari pemikiran bahwa manusia kapitalis merupakan kolektif yang menganut dimensi ruang dan temporal sebagai sistem abstrak. Sistem abstrak tersebut mendiktekan produksi sosial yang mampu memanipulasi segalanya yang ada di sekitarnya menjadi sarana untuk pemupukan modal. Sistem abstrak tersebut dipertentangkan melalui karya Evans-Pritchard dalam bukunya yang berjudul The Nuer (1940) yang mengatakan bahwa, sistem pemikiran manusia ‘primitif’ merupakan sistem konkret yang hanya meminimalisir manipulasi dimensinya. Karena orientasi yang ditunjukkan bukanlah untuk memupuk modal, melainkan untuk melanggengkan relasi sosial akibat dianggap sebagai perihal yang terus berjalan secara konstan (immutable things) (p.4). Simpulannya, bab ini berbicara tentang bagaimana produk dari masing-masing jenis manusia tersebut menentukan permainan kekuasaan mengenai siapa yang merasa diciptakan dan siapa yang merasa menciptakan.
            Pada bab 2 berjudul “Iblis dan Komoditas Fetishisme (The Devil and Commodity Fethisism)”, Taussig menjelaskan tentang studi kasus di Lembah Cauca, Kolombia dengan subjeknya yaitu Petani Tebu Afro-American.  Awalnya, kolektif petani tersebut merupakan petani pemilik lahan. Namun, cerita romantis tersebut berhenti ketika kaum kolonialisme datang menjajah dan membawa paham sekaligus praktik kapitalisme. Konsekuensinya, petani kehilangan hak untuk memilki lahan dan hanya dapat bekerja sebagai buruh tambang kasar di bawah pihak pendatang tersebut. Petani sebagai pihak proletar baru, kemudian ‘mengontrak’ iblis sebagai suatu adaptasi metafisis. Maksudnya, mereka yakin bahwa dengan mengontraknya maka mereka akan mendapatkan pertolongan untuk dapat bertahan dalam cengkraman kapitalisme. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua buruh mengontrak iblis. Ada beberapa orang yang masih setia menjadi petani tebu –walaupun jatuh miskin– karena tidak ingin mengkhianati takdir dari Tuhan atau roh kesuburan. Artinya, menjadi petani tebu berarti mensyukuri karunia dari alam-Nya. Simpulannya, bab ini merupakan studi kasus yang mempertentangkan antara metafisika (sistem pengontrakan iblis dan pemberhalaan alam) dengan positivistik (sistem kapitalisme) dalam paradigma Tylor, Frazer, dan Malinowski: suatu masyarakat dualistis mempraktikkan sihir sebagai ‘ilmu’ pseudosains yang berfungsi sebagai aktivasi rasa nyaman dan anti gangguan tertentu baginya.
            Pada bab 3 berjudul “Budak Agama dan Kebangkitan Pertanian Bebas (Slave Religion and the Rise of the Free Peasantry)” tidak berbicara mengenai studi kasus. Bab ini membicarakan tentang bagaimana hubungan antara pihak Ero-Amerika dengan negara-negara koloninya dalam perihal perubahan sosial budayanya dari lepas landas antara teologis menjadi metafisika. Bahwa, sesunggunya tidak hanya pihak bangsa terjajah saja yang mengalami kelepas landasan tersebut, tetapi juga pihak Ero-Amerika itu sendiri. Mereka sesungguhnya ketika mempraktikkan penyembuhan tidak dapat melepaskan dirinya dari tiga kombinasi, yakni berdoa kepada Tuhan Kristus (teologis) agar tidak mendapatkan efek negatif jampi-jampi setan (metafisika) juga tentunya dengan tidak lupa memberikan penyembuhan secara medis (positivistik). Mereka tetap mengembangkan ketiga prinsip yang saling berkelindan, berkonflik, dan tumpang tindih tersebut selama melakukan eksplorasi dan eksploitasi.
            Pada bab 4 berjudul “Pemilik dan Pagar (Owners and Fences)” sesungguhnya merupakan ekstensi deskripsi dari Bab 2. Ini terjadi setelah beberapa tahun kemudian, yaitu pada tahun 1914. Setelah Spanyol berhasil memupukkan semangat kapitalismenya, Ia akhirnya turut memberikan intervensi terhadap politik kenegarannya Kolombia. Dampaknya, Lembah Cauca dimanipulasi menjadi pusat kapitalisme internasional di Kolombia dan semakin menyengsarakan, baik pihak petani tebu maupun pihak buruh kasar tambang.
Pada bab 5 berjudul “Iblis dan Kosmogenesis Kapitalisme (The Devil and the Cosmogenesis of Capitalism)” mendeskripsikan tentang pandangan manusia terhadap dunia. Namun, sesungguhnya pandangan manusia yang dijelaskan menjadi kosmologi tidak semudah seperti yang telah dijelaskan seperti yang sebelumnya. Karena ada dua pandangan, antara dua jenis masyarakat atau manusia yang dualistis. Sesuai dengan keinginan materi buku ini, maka ada dua pandangan dunia, yaitu kosmologi lokal dengan kosmologi kapitalistik. Kosmologi lokal mengikuti kepercayaan penduduk dan petani tebu bahwa sistem ekonomi yang baik ialah sistem ekonomi yang memelihara kelestarian lingkungan tanpa disertai iming-iming alat tukar berupa uang. Karena alat tukar tersebut selain merusak lingkungan, juga memiskinkan petani berikut buruh. Jadi, lebih baik tidak memiliki uang namun dapat makan sehari-hari, daripada memiliki uang namun uangnya tidak cukup untuk makan. Sebaliknya, kosmologi kapitalistik mengikuti kepercayaan Kristen Protestanian yang beranggapan bahwa lingkungan harus dimanipulasi serasional mungkin agar ia tunduk terhadap manusia. Jadi, manusia berhak untuk mengontrol lingkungan sekitarnya sepenuhnya agar mampu mendiktekan keuntungan setinggi-tingginya. Jika memiliki keuntungan yang maksimal, maka manusia itu dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan ekonominya. Simpulannya, bab ini menunjukkan bahwa kedua kosmologi tersebut merupakan dua dunia yang tidak pernah akur. Dualisme tersebut juga menghadirkan adaptasi dan perubahan yang bervariasi. Maka, ia disebut sebagai suatu kosmogenesis alias perubahan pandangan manusia terhadap dunia.
Pada bab 6 berjudul Pollution, Contradictory, and Salvation berbicara tentang bagaimana tiga konsep dasar yang sesungguhnya. Klasik itu relevan untuk masa kini apabila dibicarakan melalui paradigma Marxis. Konsep yang diantar terlebih dahulu ialah sorcery yang merupakan aktivitas sihir yang ditabukan dan dilaknat oleh masyarakat ‘sederhana’. Ia dibenci oleh masyarakat karena mengundang hal kotor (baca: pollution) dan mencelakakan dirinya (baca: contradictory). Karena hal tersebut eksis, maka perlu ada mekanisme sosial kultural untuk mengubahnya (baca: salvation). Celakanya, mekanisme yang awalnya digunakan untuk kebajikan masyarakat dahulu ternyata bertolak belakang untuk konteks saat ini.
            Bertolak belakangnya konteks yang bekerja saat ini terjadi ketika paradigma Marxis bekerja melihat bagaimana industrialisasi dan kapitalisme melahirkan polusi, kontradiksi, dan penyelamatan sesuka dirinya. Kaum proletar kerap dianggap sebagai benda yang kotor. Maka ia perlu diselamatkan oleh kaum borjuis sebagai ‘subjek penyelamat’ melalui mekanisme penyelamatan kontradiktoris berupa aktivitas kapitalisme. Studi kasus tersebut dibuktikan melalui kajian petani agrikultur di Lembah Cauca, Kolombia bagian Barat Daya. Lembah Cauca merupakan kawasan tropis yang kaya akan sumber daya agrikulturalis dan keadaan sosial ekonomi masyarakatnya bersifat dualistis. Dualisme ekonomi itu membelah antara ekonomi rumah tangga melawan agrobisnis perusahaan swasta. Ekonomi rumah tangga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk, juga untuk tujuan religio-kultural seperti untuk pakan sehari-hari dan memberikan sesembahan. Sedangkan agrosnis akan mengonversi lahan dengan perubahan teknologi yang tentu saja tidak diimingi oleh urusan metafisika tersebut.
Celakanya, agrobisnis perusahaan swasta yang memegang kuasa untuk mengambil sebagian besar lahan karena telah dilindungi secara hukum ‘mengajak’ masyarakat untuk menyelamatkan dirinya dari kotornya ekonomi rumah tangganya tersebut. Artinya, ada mekanisme ‘penyelamatan’ yang dilakukan oleh perusahaan karena menganggap bahwa ekonomi rumah tangga petani merupakan suatu hal yang berjiwa kontradiktoris. Ekonomi rumah tangga petani yang tradisional tersebut dianggap kontraproduktif dan ketinggalan zaman. Kemudian petani yang beralih profesi menjadi buruh di bawah perusahaan tersebut yang didominasi oleh keluh kesah “lebih baik tidak memiliki uang, tetapi gemuk dan bersahabat daripada memiliki uang banyak, tetapi kurus dan bermusuhan”. Petani memang mendapatkan nilai tukar berupa uang, namun mereka tidak dapat memanfaatkannya menjadi nilai guna karena memang lebih memberikan kerugian daripada fungsi sosial budayanya. Simpulannya, bab 6 menceritakan bagaimana seharusnya sebagian petani yang teralienasikan tersebut diselamatkan karena sejatinya penyelamatan untuk diri mereka merupakan pertanian tradisionalistik tersebut.
Pada bab 7 berjudul The Baptism of Money and the Secret of Capital masih berbicara dalam setting yang sama, namun topik yang berbeda. Topik yang dimunculkan merupakan kasus el bautizo del billete (Taussig, 2010:126) yang menceritakan bagaimana rusaknya sistem gereja memperdayakan masyarakat sekitar. Ia tidak hanya memelihara sistem penebusan dosa melalui pembayaran melalui uang, namun ia juga turut berkontribusi dalam menguasai masyarakat atas dasar urusan religius.
Cerita dimulai dari sebuah contoh kasus yang menganalisis tentang seorang wanita yang ingin menebus dosanya di gereja. Setelah mengakui pada pihak gereja tersebut, pembaptis justru malah memberikan cek bertuliskan el bautizzo del billete. Cek tersebut difungsikan sebagai penghapus dosa sekaligus pemberian hak bagi si pengaku untuk dapat membelanjakannya. Kerap terjadi ketidakstetujuan di dalam kehidupannya sehari-hari. Misalnya, penjual yang berada di pasar kerap mempertanyakan apa maksud si pengaku tersebut memberikan cek ini. Setelah dijelaskan bahwa cek ini merupakan hadiah bertaubat dan dapat digunakan untuk transaksi jual beli sehari-hari, maka si penjual mengamini dengan raut muka yang stres.
Taussig (2010:129-133) melihat hal tersebut seperti biasa dalam pandangan Marxis. Ia melihat bahwa cek tersebut merupakan sumber konflik dalam masyarakat dan juga menjadi alih fungsi nilai suatu benda kapital. Ia menjadi konflik karena di dalamnya terjadi kebingungan antara subjek pemegang kuasa (baca: penerima cek) dengan berbagai subjek lain yang ‘mengamini’-nya. Sedangkan, ia menjadi ahli fungsi benda karena mengubah dirinya dari bernilai guna menjadi nilai tukar. Artinya, ia yang pada awalnya memiliki fungsi untuk menebus dosa, akhirnya malah menjadi fungsi koruptif untuk melanggengkan kapitalisme yang ada di pihak gereja. Simpulannya, bab 7 yang bercerita tentang gelapnya suasana religi di Lembah Cauca memberi analisis dalam rangka C-M-C-M: menanam modal, menerima uang, balik modal, dan terus menerima uang untuk dipupuk. Gereja tersebut dianggap sebagai subjek pemberi kuasa bagi pendosa dengan ‘menukarkan’ instrumen ceknya itu menjadi pupukan modal. Esensi penduduk untuk mengakui dosa dan bertaubat pada akhirnya berubah menjadi kontestasi kekuasaan.
Pada bab 8  berjudul Devils of Mine menceritakan mite tentang Tio atau Titio (Taussig, 2010: 143). Makhluk tersebut diyakini oleh Etnis Inca sekitar Kota Oruro, Bolivia, sebagai titisan pemelihara sekaligus perusak sumber daya penghidupan masyarakat, khususnya merujuk kepada lahan pertambangan. Makhluk yang biasa juga disebut sebagai Sang Paman digambarkan secara artefaktif melalui bentuk patung berukuran manusia normal berbahan liat, bermuka menyeramkan, memiliki genital pria yang panjang dan besar, serta terkadang memakai topi koboi. Pada tahun 1952-an, ketika muncul reformasi negara dengan privatisasi perusahaan jajahan Spanyol, penduduk setempat seringkali mengadakan ritual yang menyembah Sang Paman untuk mencari perlindungan. Karena mereka yakin bahwa “Sang Paman: merupakan inkarnasi kotradiktroris –ketika ia jahat-, ia merupakan figur yang menyebabkan munculnya pemerintahan militan berjiwa diktatorial dan seringkali mengganggu keamanan penduduk. Apalagi, privatisasi tersebut seringkali merebut hak penduduk dari kemerdekaannya mengolah lahan tambang. Saat ini, Sang Paman dianggap telah berubah: ia yang awalnya bengis dan gemar merokok dan mabuk akhirnya menjadi figur yang lembut dan gemar minum cola sebagai pengganti rokok dan alkohol. Konteks tersebut muncul ketika keadaan negara sudah stabil dan privatisasi sudah selesai dan tidak mengganggu keamanan etnis setempat.
Ritual dilakukan dengan memberikan sesembahan seperti darah unta, minum cola, dan pakaian. Ritual ini juga mengikutsertakan inkarnasi seorang wanita bernama Pachamama yang berperan sebagai ‘persembahan’. Pachamama merupakan antropomorfisme mitologis bumi dan kehidupannya. Sedangkan secara kontradiktif, Sang Paman tentu saja merupakan antropomorfisme mitologis lahan tambang dan pertambangannya yang dianggap terus mengeruk sumber daya hingga merusak Pachamama. Maka, etnis setempat memberikan sesembahan sambil berteriak secara simbolik, “jangan meminum darah kami!”. Mereka mengatakan dengan keras bahwa sesembahan ini merupakan hadiah dari Pachamama untuk mengubah sifat bengisnya Sang Paman.
Simpulannya, bab 8 ini memberikan analisis folklore tentang mitologi (Danandjaja, 2002:55) yang kemudian dikaitkan dalam paradigma Marxis. Bab ini mendeskripsikan relevansi antara folklor yang menceritakan Sang Paman dengan keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat. Hasil analisis mendeskripsikan bahwa folklore tersebut eksis untuk menjadi suatu alat proyeksi masyarakat sekitar, agar terus memelihara alamnya. Hasil tambang yang digunakan seharusnya digunakan untuk kepentingan kerakyatan etnis Inca. Karakteristik kerja penambangan tersebut ditengarai oleh pemeliharaan alam yang tidak eksploitatif. Namun, ketika kerja penambangan itu berjiwa eksploitatif, terutama ketika lahan dijajah pada masa penjajahan Spanyol dan masa diktatorial militan Bolivia masa awal kemerdekaan, maka ada indikasi bahwa Panchamama tidak berhasil dipertahankan akibat kemurkaan Sang Paman. Ia menjadi figur pemelihara kapitalisme yang bengis, tamak, dan menjajah. Personifikasi yang demikian tidak hanya mengacu kepada mantan negara kolonial berikut diktator Bolivia. Namun, ia juga menjadi pengingat bagi siapapun yang berupaya mengambil lahan pertambangan secara tamak dan bukan ditujukan untuk keuntungan bersama.
Pada bab 9 berjudul Worship of Nature sesungguhnya bercerita secara singkat tentang struktur sosial yang dialami oleh setting yang sama pada bab sebelumnya. Etnis Kaata, yang menjadi tetangga sebelahnya etnis Inca, meyakini bahwa alam menyediakan mereka akan kategorisasi dualistik. Namun, kategori ini dapat dijelaskan lebih melalui paradigma Dumontian, mengacu secara spesifik kepada pluralism and monism alias part and whole (Taussig, 2010:163). Maka, alam merupakan gambaran makrokosmik yang berjiwa keseluruhan dan kontradiktif dengan keadaan struktur sosial manusia yang merupakan gambaran mikrokosmik berjiwa sebagian (Dumont in Iteanu, 2013: 156).
Alam bawah sadar etnis Kaata ini selalu menyatakan demikian. Misalnya, hajat pernikahan diyakini sebagai alat untuk menyeimbangkan antara sifat sebagian wanita terhadap dominasi pria. Namun, ketika di masa depan wanita telah menjadi calon ibu yang melahirkan, maka ia akan mendiktekan sifat dominasinya terhadap pria. Hal tersebut juga turut berlaku dalam konteks dualisme antara wilayah administratif berjiwa makroskopik dengan wilayah organisasi pedesaan berjiwa mikroskopik. Perlu diketahui bahwa bagaimana Etnis Kaata mementingkan bagian keseluruhan dan sebagian, tentu saja bergantung dari keinginannya sendiri. Simpulannya, ini mengindikasikan adanya suatu permainan tarik ulur antara yang berkuasa dengan yang dikuasai dalam cara menata pandang hidup etnis Kaata. Termasuk pula memberikan penilaian kepada hakikat alam sekitarnya: mereka boleh mendominasi alam dengan memanfaatkan sumber daya untuk keuntungan bersama. Namun, apabila mereka mendominasi alam dengan merusaknya dan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi serta golongan belaka, maka bersiaplah bahwa alam akan mendominasi diri mereka dengan mendatangkan bencana.
Pada bab 10  berjudul Problem of Evils merupakan cerita unik yang menghadirkan dualisme metafisik-religio antara kepercayaan Katolik Kolonial Spanyol ketika masa penjajahan Bolivia berlangsung melawan kepercayaan masyarakat sekitar (Taussig, 2010: 169). Karena mitologi Katolik Spanyol merupakan cerita yang menuturkan bagaimana kaum baik, merupakan kaum yang taat beribadah melawan kaum jahat yang gemar menerapkan ilmu sihirnya, maka pihak ini merupakan pihak yang menyimpan dendam berkepanjangan terhadap hal-hal yang berbau metafisikal. Hal tersebut dicatat melalui sejarah tahun 1570-an yang memberikan saksi biksu terhadap sulitnya Misionaris Spanyol terhadap pembasmian ritus-ritus yang dilakukan oleh “etnis Indian Manichanea” setempat.
Berparadigma Robbinsian, studi kasus ini menyatakan bahwa di masa dahulu itu terdapat sejarah kelam konteks tersebut (Robbins, 2004). Adaptasi yang dilakukan oleh etnis setempat dapat dicanangkan melalui sebuah paradigma kecil bernuansa Dumontian. Namun, apabila Dumontian tadi menjelaskan tentang adanya nilai sebagian dan keseluruhan yang terpisah dan dipraktikkan secara terpisah pula atas dasar kepentingan kebutuhan tertentu, maka paradigma kecil Robbinsian ini tidak demikian. Data kajian menyebutkan bahwa adanya perhelatan antara dualisme diaktualisasikan melalui berbagai mitologi. Salah satu cerita besar tersebut ada di mite Bapak Jesuit Arriaga yang mengatakan bahwa praktik ritus etnis Manichanea dilakukan oleh kaum jahat yang terdiri dari kepala suku, penyihir, dan kolektif pendukungnya itu sendiri.
Setelah Spanyol berhasil menguasai Manichanea, maka etnis setempat cenderung menyerah dan mengikuti ajaran misionaris lokal. Awalnya, aktivitas misionaris tersebut dilihat sebagai kesuksesan yang berarti bagi pihak kolonial. Namun, pada akhirnya misionaris harus lelah ketika mengetahui bahwa sesungguhnya tidak semua kolektif yang dikonversi beriman sepenuhnya terhadap agama. Sesuai dengan kerangka bekerja Robbinsian, ternyata muncul berbagai varian nilai yang ada di dalam realitasnya. Ada beberapa orang yang masih mempercayai perdukunan dan tidak percaya kepada ajaran Katolik sama sekali. Ada beberapa orang yang setengah mempercayai perdukunan dan setengah mempercayai ajaran Katolik. Akhirnya, ada beberapa orang yang beriman sepenuhnya kepada ajaran Katolik. Simpulannya, yang menjadi masalah ialah bukan merujuk kepada masalah penyembahan iblis, melainkan pendefinisian iblis atau hal-hal yang berbau kejahatan itu sendiri. Karena varian nilai tersebut justru menyimpulkan kejahatan yang lain dan lebih signifikan, menjadi sebab alienasi antara relasi dan makna. Misalnya, alienasi antara manusia Spanyol dengan manusia Manichanea, antara sesama Manichanea yang memiliki perbedaan nilai, antara manusia Spanyol dengan alam jajahannya, hingga antara manusia Manichanea dengan alamnya sendiri.
Pada bab 11 berjudul The Iconography of Nature and Conquest menjelaskan bahwa Iblis merupakan simbol keterasingan yang dialami petani ketika dirinya dipaksa oleh sistem kapitalisme menjadi proletar baru. Taussig (2010, p. 182) menjawabnya dengan menggali sejarah sosial Iblis sejak penaklukan Spanyol dalam dua bidang pembangunan kapitalis yang intensif, yaitu dalam perkebunan gula di Kolombia Barat dengan tambang timah di Bolivia. Iblis melambangkan hal penting dari politik dan ekonomi sejarah. Iblis diyakini oleh masyarakat sebagai simbol dari imperialisme Eropa. Mitologi di Amerika Barat dan Selatan mengatakan bahwa manusia memisahkan diri dari masyarakat dan melakukan perjanjian dengan Iblis. Ia melakukannya dengan menukar jiwanya dengan Iblis untuk memupuk kapital. Namun sesungguhnya, ia ditujukan sebagai simbol keputusasaan, kehancuran, dan kematian. Ikonografi berkaitan derat dengan keyakinan penduduk lokal dengan hubungannya terhadap geografi. Namun, perlu diketahui bahwa geografi yang dibangun selalu mengalami perubahan akibat kapitalisme yang dipraktikkan dalam kesehariannya tersebut. Ironisnya, keadaan geografi yang telah mengalami perubahan tersebut malah menyiratkan simbolisme lingkungan fisik yang tidak bersahabat dengan kaum proletar. Artinya, ikonografi di kehidupan sehari-harinya proletar menjadi musuh baru yang perlu ditentang olehnya. Ini memunculkan berbagai dampak seperti kecelakaan sosial akibat semakin maraknya praktik jampi-jampi, hingga kontrak dengan Iblis.
Bab ini juga memberikan banyak studi kasus tentang cerita ritual dan hubungan antara manusia dengan iblis. Setiap tempat, baik gunung, sungai, danau, tambang, dan beberapa tempat lainnya dipercaya memiliki penghuni. Maka jika hendak mengambil benda dari tempat tersebut, seharusnya berlaku sopan, memperlakukan tempat dan hasil diperolehnya dengan baik. Jika mereka tidak hormat, maka penghuni akan marah dan tidak akan memberikan kekayaannya lagi pada manusia. Riual dan persembahan harus dilakukan kerena mereka percaya bahwa Dewa harus diberi makan. Jika memberi makan Dewa, sehingga akan mencegah kejahatan. Ambiguisitas antara pertukaran dan penaklukan ini dijelaskan oleh ritual. Hal ini berfungsi untuk mengikat hati penambang, akan ketergantungannya dengan produksi dan kehancuran. Singkatnya, suku Aymara reka menukarkan jiwanya untuk uang, keselamatan, dan kekuasaan.
Pada bab 12 berjudul The Transformation of Mining and Mining Mythology menjelaskan tentang pemberontakan mesianis oleh etnis Inca terhadap Spanyol akibat terbunuhnya Raja Inca. Mesianis dilakukan dengan menghidupkan mitologi masing-masing komunitas yang hidup di dalam Inca. Misalnya, Komunitas El Roal memiliki cerita-cerita yang berkaitan dengan kekuasaan Dewa Matahari sebagai pemelihara alamnya. El Roal meyakini bahwa penguasa alam di sana bukan merupakan Spanyol, melainkan Dewa Matahari. Beberapa contoh lainnya yang begitu mirip terjadi dengan beberapa komunitas lain seperti Puquio dan Quinua. Kedua komunitas itu meyakini bahwa Dewa Gunung merupakan dewa yang juga turut memelihara lingkungan alamnya. Maka, berbagai folkor tersebut menjadi motivasi mereka untuk bergerak memberontak terus melawan Spanyol. Misalnya, dengan menyelipkan sistem upeti dalam arus pertukaran uang dan jasa tentu melalui iming-iming folklor tersebut: upeti yang didapatkan digunakan untuk membeli sesajen bagi Para Dewa agar Mereka mau menolong Proletar Inca ini.
John Leddy mengatakan bahwa pertambangan adalah kegiatan ekonomi kecil karena suku Inca mengahrgai emas dan perak hanya sebagai ornamen. Logam mulia yang ditambang sebelum penaklukan, bukan dipandang sebagai penghormatan yang dipaksa, melainkan sebagai hadiah kepada Illahi. Emas dan perak yang dimiliki oleh Raja Inca dianggap sebagai benda yang tidak penting, namun hanya dihargai sebagai properti. Banyaknya emas dan perak yang dimiliki Raja Inca karena kecentikannya menghiasi istana. Raja pun terhibur dengan perkataan, dipertambangan tidak ada perbudakan, melainkan kesenangan hidup. Dijelaskan pula tentang berbagai macam mitologi di pertambangan tentang asal-usul mineral dan benda lainnya. Mereka percaya bahwa jika mengambil barang berlebihan, tidak baik. Maka mereka akan melemparkannya ke sungai atau mengembalikankembali. Sama seprti Tio yang menguasai tambang. Hauhari juga dipercaya adalah sosok yang membujuk manusia untuk meninggalkan pertanian dan beralih ke pertambangan.
 Pada bab 13 Pesant Rites of Production menceritakan tentang sistem kapitalisme yang semakin menunjukkan kejayaannya (masih) di sekitaran Inca. Opresi yang dilakukan oleh Inca seperti yang dijelaskan oleh bab sebelumnya, tidak sepenuhnya memberikan hasil yang signifikan. Spanyol tetap menang dan konsekuensinya terus memupuk sistem kapitalismenya. Hal ini berlanjut hingga pada titik di mana sistem kapitalisme telah mendiktekan sistem perpajakan setiap rumah tangga yang benar-benar mengubah tatanan komunalisme di setiap unitnya. Dampaknya, setiap unit rumah tangga perlu membayar upeti secara periodik melalui kepala desanya. Kepala desa yang terpecah menjadi dua, yaitu ada yang pro dengan upeti dan ada yang kontra dengan upeti, menghadirkan suasana sosial yang berujung kepada kontravensi sehari-hari. Kepala desa yang pro dengan upeti cenderung akan memupuk hasil pajaknya untuk membayar permintaan Spanyol juga tentunya memupuk kekayaan bagi dirinya. Sedangkan, kepada desa yang kontra dengan upeti cenderung akan mengajak masyarakat sekitar untuk mempraktikkan Ritual Challa, yaitu sebuah ritual yang memberikan sesajen sesuai dengan mitologi yang telah diungkapkan sebelumnya.
Bab ini secara detail menceritakan tentang bagaimana ritual dilaksanakan. Challa nampak seperti ritual yang penting. Mereka melakukan ritual ini pada saat sebelum membangun rumah, berburu, memancing, berburu, perjalanan, dan melakukan pembelian. Proses ritual dilakukan secara bertahap dan dilakukan bersama-sama dengan dipimpin oleh dukun. Mereka percaya bahwa jika darah sudah tercampur dengan tanah, maka persembahan dan ritual yang dilakukan oleh mereka berhasil dan diterima oleh Dewa. Steven Webster mengatakan bahwa ritual yang terjadi memiliki struktur yang terdiri dari manusia, llama, roh gunung, dan bumi. Hal tersebut dilakukan untuk membangun kembali hubungan antara komponen dan jajaran kekuatan luar biasa yang mempengaruhi kesejahteraan. Laporan Bastien tentang ritual dipahami sebagai manusia yang hidup, memiliki tubuh yang isofomik dengan tubuh manusia dan dengan pola sosial yang dibentuk oleh pengelompokan penduduk di gunung.
Pada bab 14 berjudul Mining Magic: The Mediaton of Commodity Fetishism mendeskripsikan tentang kontras yang terjadi antara pihak petani dengan pihak penambang. Kontras tersebut perlu dicatat setelah dualisme antara sistem lokal dengan sistem kapitalisme dan penjajahan terus berlangsung, termasuk dalam rangka neo-kolonialisme. Petani disimpulkan memiliki alat produksi, mengontrol kerja organisasi, hingga dapat memiliki kekuasaan sepenuhnya secara independen untuk menggabungkan produksi sebagai hasil jual kapital yang subsistem. Sedangkan penambang disimpulkan sebagai figur yang malangnya tidak memiliki alat produksi, rentang dengan kontravensi hingga konflik dan kekerasan antara dirinya dengan pihak di atasnya seperti manajer dan dewan direksi, hingga konsekuensinya memiliki ketergantungan terhadap cengkraman sistem kapitalisme. Komoditas, Iblis, dan sistem penjajahan menghadirkan transformasi sosial budaya antara petani dengan penambang yang menghadirkan kegamangan hingga kegalauan seperti kontrak antara Iblis dengan penambang, kontravensi antara petani dengan penambang, opresi antara petani dengan kepala desa, hingga berbagai kecelakaan sosial seperti pemberontakan, perang kecil, dan persaingan untuk memupuk modal kekayaan.
Adanya perbedaan masalah yang dimiliki oleh petani dan penambang, mengakiatkan perbedaan makna ritual dan magis yang mereka lalukan terhadap roh. Dijelaskan pula, karena dalam bidang pertanian, memiliki alat produksi, sehingga kemalangan dan kendala yang terjadi di kalangan petani nampak lebih banyak. Maka dari itu ritual yang dilakukan oleh kaum petani bertahap sesuai dengan kendala yang sedang mereka hadapi kala itu. Sedangkan di kalangan pertambangan, untuk keselamatan mereka, ritual dilakukan tidak memiliki tingkatan. Penambang selalu menggambarkan bahwa jika mereka sedang memasuki tambang, rasanya seprti di dalam kuburan dan ketika keluar, udara segar lahir kembali. Reaksi terhadap perkembangan kapitalis, ikonografi, dan ritual menggambarkan signifikasi manusia dari pertukaran pasar sebagai kejahatan distorsi pertukaran hadiah, bukan sebagai hukum alam.

Verdict: Hubungan antara Buku dengan Konsep Kekuasaan
Kekuasaan dalam kerangka Taussig (2010:120) merupakan upaya kreatif seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan pengaruh kepada seseorang atau sekelompok orang lainnya. Memberikan pengaruh ini bukan berarti hanya dalam struktur politik atau hukum kenegaraan saja, seperti pada pihak kolonial terhadap daerah-daerah koloninya yang dipengaruhi melalui kitab hukum perundang-undangannya. Kekuasaan juga tidak hanya diartikan sebagai pengaruh yang awet selama 24 jam dan bergerak secara konstan. Namun, karena merupakan upaya kreatif, maka kekuasaan juga merupakan upaya untuk memberikan saling mempengaruhi dan pada praktiknya bersifat dinamis serta sementara. Ia selalu mengalami permainan yang terus-menerus antara satu subjek dengan berbagai subjek pendukung lainnya. Sifat dinamisnya itu membuatnya dapat dimiliki oleh tiap subjek dan menjadi alat bagi masing-masing subjek tersebut untuk mencanangkan kebenarannya sendiri-sendiri.
            Salah satu relasi dan makna yang terjadi ialah antara iblis dengan komoditas. Pandangan subjek ‘proletar’ akan mengatakan bahwa iblis merupakan personifikasi dari pihak ‘borjuis’ alias koloni. Mereka dianggap sebagai subjek yang jahat karena mengacaukan keteraturan kosmiknya. Karena aktivitas kapitalisme menyebabkan pengadaan komoditas, seringkali menyebabkan keterasingan bagi proletar seperti alienasi. Perlu diketahui bahwa komoditas merupakan barang atau jasa produksi yang siap diperjualbelikan untuk melanggengkan kapitalisme. Sedangkan pihak borjuis akan menganggap aktivitas ritus proletar tersebut sebagai hal yang kuno, bodoh, dan aneh. Mereka mengklaim bahwa aktivitas tersebut tidak selaras dengan produksi komoditas yang selaras dengan nilai religi Protestanisme. Jadi, dengan mengadakan aktivitas ritus tersebut, tidak hanya melanggar ketentuan Tuhan Kristus, tetapi mereka juga mengadakan suatu kontraproduktivisme yang hanya akan mendiktekan kemiskinan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Dampaknya, kekuasaan menjadi suatu permainan sehari-hari mengenai klaim pembenaran diri mereka sendiri: siapa subjek yang paling benar? Biarkan itu menjadi misteri.
            Keterkaitan asosiatif antara kapitalisme dengan fetishisme. Hal ini sesungguhnya sesuai dengan rangka berpikir Marxisme. Kapitalisme merupakan aktivitas pemupukan modal tiada henti atas dasar alasan tertentu. Alasan tersebut merupakan fetishisme itu sendiri, yaitu sadar atau tidaknya subjek-subjek kapitalisme yang menjalin hubungan interdependensif antara dirinya dengan komoditasnya. Atau, ada unsur religi Protestanisme yang masuk ke dalam fetishisme. Maksudnya adalah dengan subjek yang semakin rajin memproduksi komoditasnya, maka dirinya semakin dekat dengan Tuhan. Artinya, Menuhankan Tuhan Kristus sama saja dengan menuhankan atau memberhalakan komoditasnya, sesuai dengan prinsipnya fetishisme itu sendiri. Kapitalisme berlandaskan fetishisme menjadi dasar kekuasaan ala pihak borjuis. Hal ini berarti, ia menjadi dasar bagi subjek-subjek yang terpengaruh darinya untuk meyakinkan bahwa hidup akan lebih baik apabila mereka mengikuti dasar prinsip yang demikian.
            Hubungan antara mitologi dengan opresi. Hal inilah yang menjadi bahasan paling samar: artinya, memiliki bau metafisika terkuat di buku ini. Mitologi merupakan penyelidikan dalam bidang ilmu sosial humaniora tentang salah satu jenis folklor, yaitu mite. Mite adalah kepercayaan rakyat yang diyakini begitu saja serta bersifat keduniawian alias profan. Sedangkan opresi merupakan ‘resistensi’ yang menurut Taussig (2010:158) dijelaskan sebagai upaya kreatif pula untuk menantang kekuasaan tersebut. Kumpulan mite yang dimiliki oleh kaum proletar kerap menjadi alat pamungkas bagi mereka untuk menantang kekuasaan yang dimiliki oleh kaum brojuis. Simpulannya, mitologi dan opresi menjadi kekuasaan yang dimiliki oleh kaum proletar.

Daftar Referensi
Danandjaja, James. 2002        Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Iteanu, Andrea. 2013  ‘The Two Conceptions of Value’, Journal of Ethnographic Theory 3(1):153.
Robbins, Joel. 2004     Becoming Sinners: Christianity and Moral Tormen in a Papua Guinea Society. Berkeley, Los Angeles, and London: University of California Press.

Taussig, Michael T. 2010        The Devils and Commodity Fetishism in South America [13th Anniversary Edition]. Chapel Hill: University of California Press. 

24 Nov 2017

KL - PENANG - MELAKA - SINGAPURA


KL – PENANG – MELAKA – SINGAPURA

Hallau semuanya, kali ini aku ingin berbagi tentang pengalaman trip pertama aku keluar negeri. Tentunya artikel ini sebagai memori aku dan semoga bermanfaat untuk kawan-kawan yang membutuhkan tentang trip terkait. (kalau yang merasa ndak perlu, sih tak usah baca.. ahahahaa)
Berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta
Karena aku dari Depok dan tidak mencari hal lebih tentang jalan lain menuju Bandara yang tercepat, akhirnya aku putuskan menuju rumah Galih di Tangerang agar berangkat bersama. Menaiki KRL dengan susah payah karena penuh pekerja dan beberapa orang lainnya, akhirnya sampailah kita di Pondok Ranji. And than lanjut perjalanan dengan grab car. Setelah sekian lama, akhirnya aku tahu cara terhemat menuju CGK (hihii) yakni  1) naik KRL sampai pasar minggu, lalu naik bus Damri (yang ke arah bandara), 2) ke terminal Depok (dekat ITC itu loh) lalu naik bus ke arah bandara (nanti bilang saja turun terminal berapa) kata kawanku, bus ada per 30 menit sekali. Kala itu kami berhenti di terminal dua dan saling menunggu di Old Town Cofee.
Saatnya cek in deh,
Mula-mula siapkan paspor dan tiket bookingan. Scan dan scan lalu dapat tiket deh. Timbang barang, saat itu maksimal 8KG, diatas itu kena bagasi. Per 15kg 300rb rupiah. Tips nih kawan, kalau barangnya banyak, dipisah-pisah saja, alias bawa beberapa tas. Jadinya lebih ringan dan tidak kena bagasi.
Cek in lagi, masih tetap sama siapkan paspor dan tiket. Lalu scan manusia dan barang (apa sih bahasa alusnya hahaha). Barang dimasukan ke sinar X lalu kita lewat pintu satunya. Jangan memakai sabuk yaw. And than, benda cair dibatasi 10mill. No bawa benda cair dan handbody. Btw, kemarin ada yang bawa garam, kurang tahu ya, boleh atau tidak. Yang jelas, mereka tertahan beberapa lama. Hehe
Cek in beberapa kali dan ditanyakan ada beberapa hal 1) ke luar negeri mau ngapain? 2) berapa lama? 3) disana tinggal dimana? 4) udah ada tiket pulang belum? 5) sama siapa aja? Waktu itu gitu sih, petugas bandaranya menanyakan diriku demikian. Tapi entah kenapa Galih dan yang lainnya Cuma ditanya mau ngapain dan berapa lama doang. Hhuhuhu lama syekali diriku ditanya L sambil menyodorkan paspor untuk dilihat sama nggak sih wajahku dengan foto di pasportnya.
Setelah sekian lama melewati proses tanya jawab, lalu kami menuju pintu sesuai dengan tiket. Menunggu pesawat, naik bis ke tempat pesawat berada, lalu naik deh.
Sebelum aku jabarkan rincian pengeluaran biaya, izinkanlah aku bercerita singkat tentang perjalanan ini… selamat membaca kawan :D
Kuala Lumpur
Sampai juga akhirnya kami di Kuala Lumpur Internsional Airport. Berjalan yang lumayan jauh menuju tempat pembelian tiket bus untuk ke KL Sentral. Dijemput sama budhe nya Galih dan lanjut ke Cokit dimana Bude Galih tinggal disana. Oiya, karena kami menginap di rumah saudaranya teman. Sehingga untuk akomodasi penginapan di KL tidak masuk hitungan. Hanya ada beberapa ucapan terima kasih dari kami dalam bentuk yang berbeda-beda. Yah, ini memang menguntungkan sekali untuk aku dan kawan-kawan. Begitu pula dengan Bude yang katanya rindu dengan kami. Dari Bandara menuju KL Sentral jam 18.53 – 19.50 dengan bus seharga 12 RM. Lanjut perjalanan dari KL Sentral menuju Cokit dari jam 20.20 – 21.30 dengan bus free. Lanjut dari Cokit ke rumah bude dengan bus seharga 2 RM. Selamat istirahat di rumah bude….
Senangnya kami disuguhi banyak sekali camilan hihiii… sebelumnya kami diajak makan dulu di nasi briyani, aku ambil tiga jenis nasi (maklum penasaran hehee dikit-dikit kok porsinya) lalu pare merah 1 biji dan ayam.. pokoknya aku makan yang belum pernah aku makan di Indonesia dan minumnya TO (es teh yang ada limaunya jadi lemon tea deh di Indonesianya), hheehee aku habis 4RM.


Hari Pertama
Batu Cave










Di Batu Cave ini dekat dengan tempat bude, alhasil kami memilih tempat tersebut sebagai tempat pertama kami berpetualang. Terdapat patung (entah siapa namanya) yang menyimbolkan tentang agama Hindu, beberapa anak tangga menuju atas, terdapat candi dan beberapa tempat untuk sembayang agama Hindu tak lupa di bagian bawah ada merpati yang dilepas sengaja. Disini kita juga dapat memberi makan merpati loh. Karena pada saat itu sedang ada renovasi, beberapa tukang meminta bantuan pengunjung untuk membawakan batu bata ke atas, tidak terbayang bagaimana mereka lelah membawa batu bata yang banyak dengan menaiki anak tangga yang sangat banyak tersebut. Aku lupa menghitung ada berapa anak tangga yang ada disana yang jelas sungguh banyak. Usai sampai diatas, banyak beberapa patung, tempat ibadah, stalaktit, dan beberapa penjual yang menjajakan khas Malaysia. Mulai dari gantungan kunci hingga peralatan ibadah dan khas ala-ala India gitu. Selain itu, sebelum lurus sebelum sampai atas, ada anak tangga yang ke kiri, menuju Dark Cave, yaa seperti namanya “dark” begitu pula dengan suasana dan aromanya. Ada tulisan yang artinya “dilarang meludah” aku awalnya berfikir, siapa juga yang mau meludah. Setelah memasuki pintu pertama dan ternyata aromanya memang ingin memuat aku meludah atau bahkan muntah. Hahahaa tapi ada beberapa turis yang bertahan disana.
Setelah puas di Dark Cave dan kami turun melewati tangga yang kami lewati sebelumnya. Menuju jajanan yang belum pernah aku lihat sebelumnya berwarna merah dan nampak panas gitu deh. Saking penasarannya kami lewat situ, ya Tuhan… ternyata ada makanan yang pengeeen banget aku icipi dari zaman aku melihat Mahabarata dulu. Ladoo benar… Ladoo akhirnya aku menemukanmu. Ladoo, harganya 1 RM per buah waktu itu kami beli dengan bercakap bahasa Inggris karena bahasa India ku sudah ludes ketika kuliah. Ahhaha ladoo yang aku coba ada 3 biji. Mumpung disini, saatnya kuliner yang belum pernah aku coba. Hahhaa… aku beli 3 macam. 1 warna kuning, 1 warna oranye, dan 1 ladoo yang basah. Perlu diketahui kawan, ladoo dengan warna kuning dan oranye itu sama hanya warna saja yang beda, sedangkan yang basah itu rasanya lebih maniiiiis, warnanya kaya kentang dan ketika beli ada sedikit airnya gitu. Jadi nampak kaya manisan ya hahhaa.
Perjalanan dari rumah ke Batu Cave naik bus T 204 dengan biaya 2 RM. Nyebrang sedikit dan sampailah di pagar Batu Cave, Malaysia.
Masjid Nasional

Saat kami pergi adalah hari Jum’at, lalu kami lanjutkan untuk mencari masjid untuk shalat. Dari Batu Cave menuju Central Market naik KMT dengan harga 2.5 RM jalan kaki sedikit menuju Masjid Nasional untuk melakukan ibadah dan shalat Jum’at. Mengingat backpaker kita ala-ala hemat, usai Say shalat Jum’at, kami makan bekal yang sudah disiapkan bude. Alhamdulillah, nasi lemak, kacang goreng, teri goreng, sambal, dan pangsit ala bude.



                                           

Museum Dataran Merdeka dan KLCC
Usai dari Masjid Nasional, kita jalan sebentar menuju dataran merdeka dan menemukan museum tekstil. Masuknya free dan kita bisa lihat beberapa batik dalam museum tersebut. Karena aku orang Indonesia, hmmm yaaa gimana gitu.
Akhirnya kami lanjutkan menuju KLCC. Dari station Masjid Nasional naik Klana Jaya Line turun di station KLCC seharga 2RM.
Pada saat makan sore, kami makan di Restoran Yusoof & Zakhir Sdn. Bhd. Maklum, jalan kaki dan versi hemat. Berikut aku sertakan foto menu makanan dan harganya. Sebelumnya kami beli oleh-oleh dulu, ya oleh-oleh seadanya kantonglah untuk yang tersayang.






















Waktu itu, kami berlima pilih makan makanan yang bisa buat bareng-bareng, hanya minumnya saja yang masing-masing. Aku pilih lime juice cold seharga 2.6 RM makan roti naan 3.5 RM dan Beef Martabak seharga 10RM. Selamat makaaan. Untuk oleh-oleh sendiri, aku beli maghnet, dompet, dan kaos. Aku juga beli air mineral secara pribadi ketika jalan-jalan. Maghnet 10 RM + 7 RM dompet 6 RM kaos 3 buah 55 RM. Setelah puas kami shalat dan balik rumah dengan naik bus seharga 2 RM




Pulau Penang





Hari berikutnya, hanya aku dan Galih yang pergi ke Pulau Penang. Traveling nekat kami berdua ini banyak sekali hikmah yang diambil. Karena suatu hal, singkat cerita kami tidak memesan hotel untuk menginap. Sebagai gantinya, kami tidur di bus menuju KL kembali. Hal yang perlu dicatat dalam perjalanan ini adalah jangan membeli tiket PP.  Jadi Pulau Penang itu letaknya berjauhan dengan KL, ibarat kita lagi liburan di daerah Jawa Timur, lalu Pulau Penangnya adalah Madura. Kami harus menyebrangi lautan via bus dulu untuk menuju ke sana. Pertama dari Chokit ke TBS (Terminal Bersedadu Selatan) naik bus seharga 2.5 RM perjalanan berangkat jam 06.50 – 07.25 dilanjutkan naik Train ke Bandar Tasik Selatan seharga 3 RM sementara baliknya ke Sentul Timur dari TBS turun di St. Bandaraya lanjut naik bus 202. Lalu cari tiket bus menuju penang (Sungai Nibong). Dari TBS – Sungai Nibong seharga 38.5 RM sementara dari Sungai Nibong ke TBS seharga 38.7 RM. Berangkat jam 08.30 sampai di Sungai Nibong jam  14.20. Ketika perjalanan menuju Penang, bus sempat berhenti dulu kurang lebih 10 menitan untuk istirahat dan ke toilet dan perjalanan di lanjutkan lagi melewati jembatan yang begitu pajang melewati lautan menuju Penang. Sesampainya di Penang kami mencari bus ke Komtar dengan naik Rapid Penang no 401 seharga 2 RM. Perjalanan kami putuskan lanjut untuk menuju Penang Hill atau Bukit Bendera. Perjalanan ini menggunakan bus 204 seharga 2 RM. Untuk menuju bukit, kita perlu naik kereta lagi karena memang tempatnya berada di tempat yaaang tinggi. Harga kereta gantung tersebut PP 30 RM untuk foreign. Itu untuk tiket yang biasa (antrenya cukup lama untuk menuju kereta karena puanjang sekali. Sementara untuk yang fast harganya dua kali lipat, tapi cepet antrenya dan didahulukan hehee. Kartu itu harus kita pegang sampai kita pulang dari Penang Hill untuk naik kereta.  Di Penang aku hanya mampir ke Penang Hill saja, sementara tempat lain tidak jadi kami singgahi karena keterbatasan waktu. Sebelum menuju  Penang Hill di tengah  perjalanan kami yang haus, kami membeli Es Cendul. Rasanya seperti dawet di Indonesia, bedanya terdapat kacang merah dan gula merahnya lebih kental dipadukan dengan cendol yang besar dan es serut, antrinya panjaaaaaang banget sampai pengunjung lain pada heran, itu antri apaan sih? Singkat cerita kami membeli dan makan ditempat. Harga Es Cendul 2.9 RM makan ditempat  dan 3 RM jika dibungkus. Jalan lagi dan nemu jajanan lagi, namanya Belangan, rasanya seperti kacang dan bentuknya lebih besar. Ada robekan di tengah, itu fungsinya untuk membuka kacang tersebut, kalau pakai gigi, nanti giginya sakit. Belangan seharga 6RM/150gr. Perjalanan kuliner kami gagal untuk membeli Nasi Kandar yang katanya khas dari Pulau Penang. Saat perjalanan menuju Penang Hill di jalanan penjual Nasi Kandar, pembelinya banyak sekali bahkan sampai membludak mengantre sampai jalanan. Sampai di Bukit Bendera ada banyak sekali plihan wahana yang hendak kita datangi. Karena aku penasaran dengan Lock Love makanya kami langsung kesana dan menuliskan namaku dengan someone with hanzi hahahaa. Padahal ke tempat itu sama Galih, tapi nama orang yang aku tuliskan bukan nama si cewek itu. Alhasil aku nggak peduli itu mau terkabul atau enggak, toh saat ini aku jomblo dan nama yang ku tulis hanyalah sebuah simbol saja. Hahahaa yaa, semoga suatu hari 光见教 itu aku akan melihat bagaimana bentuk dari dirinya itu. Semoga dia benar-benar membawaku dalam bentuk demikian. Hahahahaa Amiin. Harga lock love nya total 51 RM dan kala itu kami mendapatkan free masuk owl museum untuk dua orang. Nah, di Owl Museum ini lah kami bertemu dengan kawan baru dari China seperti yang ada pada gambar di atas. Namanya Yan nis (wo de zuo bian) dan Peng Jing Jing (wo de you bian). Entah kenapa memang aku pengen banget pergi ke China dan pantang ndak mau nikah kalau belum menginjakkan kaki ke Negeri Tirai Bambu tersebut. Hahahaa semoga, setelah pertemuan dengan mereka aku bisa ke sana. Amiin…
Di Bukit Bendera kami hanya main ke Lock Love, owl museum, dan tower untuk melihat pemandangan Pulau Penang dari ketinggian, nampaklah hamparan laut dengan beberapa bangunan yang tinggi di sana. Pulangnya naik kereta seperti tadi lagi untuk turun dari bukit. Tak lupa juga kami video sebentar dengan kawan baru dari China tersebut sebelum kami berpisah. Sayang sekali, kuliner Nasi Kandar tidak sempat kami buru kerena mengejar mencari hotel dan/atau mencari bus pulang. Karena suatu hal, akhirnya kami mencari hotel, beruhubung sudah penuh dan ternyata itu adalah malam minggu, kami kehabisan kamar. Hanya bertemu dengan kamar dengan harga 400 RM karena nampak mahal akhirnya kami putuskan untuk mencari bus yang paling malam saja dengan kembali ke Sungai Nibong dan menginap di bus sampai KL. Sebelumnya kami makan malam dulu di dekat terminal Sungai Nibong, aku makan Bareli ice (es kacang kedelai) 1.5 RM dan Sup Campur 6 RM. Tidak sempat membeli oleh-oleh di Penang karena masalah waktu dan fisik. Hahhaa kami memberikan 5 buah belangan saja untuk kawan kami yang tidak ikut ke Penang. Oiya, disini aku merekomendasikan hotel Oldrich Hotel alamatnya Jalan Sultan Azlan Shah, No 566 & 568 A, Sungai Nibong, Bayan Lepas, Pulau Penang. Kokonya ramah sangat loh, tempatnya dekat dengan Terminal Sungai Nibong. Meskipun di China, tapi beliau mengingatkan kami tentang shalat dan berdoa di jalan. duuuh baiknyaa koko satu ini. Lancar terus usahanya ya Shushu (bhs. Mandarin yang artinya Paman).



Melaka

















Perjalanan kami lanjutkan kembali ke Malaka pada esok harinya. Begitulah, lelah terasa badan ini dan sempat sakit. Untunglah kawanku yang bernama Syailendra atau biasa kami panggil dengan nama 'Say' degan cekatan dan keahlian memasaknya,  membuatkan aku minuman hangat yang lega di tenggorokan. Jahe geprek dicampur dengan gula merah dan beberapa tetes kasih sayang (eaaaa. nggak ding), jadilah minuman hangat tersebut. Lanjut perjalanan, naik bus dari rumah bude ke chokit seharga 2.5 RM. Dilanjutkan naik train menuju TBS seharga 16.5 RM, lanjut lagi naik bus dari TBS ke Melaka Sentral seharga 10 RM, dilanjutkan lagi dari Melaka Sentral ke Bandar Hilir (kota tua) seharga 1.5 RM.

Awal tiba kami langsung mencari penginapan untuk meletakkan barang dan membersihkan diri seadanya, sebelum jalan-jalan malam karena saat itu kami tiba sore hari di Melaka.
Penginapan yang kami singgahi bernama Taj Grand Hotel SDH BHD. Alamat, No 1 C Jalan Bunga Raya 75100 Melaka. Kami mendapatkan kamar untuk lima orang dengan harga 200 RM dan setelah cek out akan dikembalikan 50 RM.
Perjalanan malam pertama kali adalah mencari makan malam. Aku memesan laksa 6 RM, minumnya air putih yang dibawa tadi dan klepon 2 RM (lupa nama sananya apa, isinya ada lima). Lanjutlah perjalanan kita menyusuri jalanan. Nampak seperti Malioboro di Jogja, bedanya disini musik yang di setel berbahasa China dan banyak manusia lalu lalang dengan menggunakan bahasa Mandarin. Jadi semangat pengen ke China deh, hahhaa dagangan yang dijajakan juga menggunakan hanzi di papannya. Pokonya banyak banget yang dijajakan mulai dari camilan sampai barang-barang unik. (nanti aku kirim videonya deh, di FB aku, tapi singkat saja yaa). Waktu itu, aku  beli moon cake lima buah, satu harganya 1.5 RM jadi total 7.5 RM kala itu karena aku ngobrol pakai Bahasa Mandarin sama cici penjualnya (bahasa Mandarinnya Jiejie yang artinya kakak perempuan. Tapi pas aku denger dari beberapa pembeli lain yang sedang menawar dagangan, mereka menyebutnya dengan nama 'xiaojie' artinya nona. sebenarnya sama saja sih kan sebutan untuk perempuan). Alhamdulillah cicinya baiiik, aku mendapatkan bonus satu buah Moon Cake. Ahay, lumayan kaan. Oiya, Moon Cake itu seperti bakpia pathok, tapi isinya lebih padat dan beragam, untuk mengetahui isi apa aja yang ada didalamnya, kita dapat membaca karakter hanzi yang ada di kue tersebut. Waktu itu aku beli rasa kopi, pandan, kacang merah, teh hijau dan kacang putih.  Kalau laksa yang aku makan, rasanya asam kecut dingin gimana gitu. Sementara kleponnya, layaknya klepon seperti biasa. Aku juga beli cincin yang warna hijau kaya di film Goblin hahaha, bedanya punyaku polos, cincin harganya 5 RM. Perjalanan menuju penginapan, si Say ingin mimum sekuteng ala-ala melaka, rasanya seperti teh, warna hijau di mangkuk kecil (kaya soto semarang) harganya gratis karena di traktir. Hehehee. Malamnya kami tidur, bangun dan lanjut ke Singapura. Berangkat pagi dengan bus ke Melaka Sentral seharga 2.5 RM. Mencari bus ke Singapura, seharga 26 RM.

Singapura


Perjalanan ini merupkan terusan dari perjalanan kami di Melaka. Setelah mendapatkan tiket menuju Singapura, bus sempat berenti dua kali untuk pengecapan paspor. Jadi paspor itu bener-bener nyawa kita banget. Tips nih, buat jaga-jaga aja, usahakan lari untuk mengecap paspor karena bus yang menunggu kita tidak berhenti lama dan juga antrinya panjang. Saat itu kami sempat ketinggalan bus ketika mengecap paspor yang kedua kalinya. Alhasil kita mencari bus lain untuk menuju tempat yang akan kami singgahi. Kala itu kami masih membayarnya degan uang Ringgit Malaysia, untuk enam orang 10 RM kalau ndak salah. Enam orang tersebut kami berlima dan ada tambahan seorang lagi. Seorang peneliti dari Prancis dan sedang bekerja di Singapura. Bus melaju dan menuju stasiun tujuan kami. Disini kami membeli kartu untuk kereta dan top up. Tips juga, kita perlu meminta map stasiun untuk panduan kita perjalanan berikutnya, minta saja di petugas loket dan gratiiis. Disini aku sempat ngobrol sedikit dengan penjaganya pakai bahasa Mandarin dong, eaaa hhahhaa. Top up dan beli kartu 12 SGD. Sebelum kami jalan-jalan, kami membeli tiket pulang ke KL terlebih dahulu, tujuannya adalah TBS seharga 18 SGD. Saat kami menuju sini (turun di st. Nicoll Highway", kami berpisah dengan Sabrina, kawan dari Paris yang gabung dengan kami. Perjalanan dilanjutkan shalat dan makan siang. Alhamdulillah kami menemukan makanan halal di Singapura, rata-rata 4 SGD untuk makan sedangkan minum 1 SGD. Nama tempat makannya An Nur Chinesee Halal Food. Tips nih, kalau mau makan lihat di atas ada tulisan "中国清真食品" atau dalam pinnyin "zhongguo qingzhen shipin" yang artinya makanan China halal. Kala itu untuk makan siang saya memesan Vegetarian Chinesee Hor Fun dan makan malam saya memilih Fish Soup Noodle, masing-masing harganya 4 SGD, sementara minumnya yang pertama kita jiwa korsa yang malam minum TO Ice harganya 1.5 SGD. Puas makan kami jalan-jalan dengan menggunakan tiket yang sudah dibeli tadi, tak lupa dengan peta station untuk tahu dimana kita akan berhenti. Menuju Maria Bay, kami naik kereta lagi dan turun di st. Bayfront, dalam waktu yang cukup singkat, akhirnya sampailah di sebuah tempat semacam mall (maaf lupa namanya) lalu menyusuri jalan akhirnya ke luar tempat itu, lewat jembatan yang cukup jauh, akhirnya sampailah di Marina Bay Sand dan jalan lagi sampai ke Marlion. Ketika disana, aku melihat ada beberapa anak yang jajan bentuknya bulat gitu. Kata si Say itu kelapa. Karena penasaran, mumpung disini, aku jajan deh itu kelapa, aku beli yang clasic ada taburan kacangnya. Ternyata itu kelapa kecil yang dibelah dua lalu diberi satu skop es krim dan taburan kacang, harganya 5.5 SGD (lumayan laham ya..). haus yang melanda tenggorokan alhasi untuk total minum aku habus 3.8 SGD sedangkan pipis total semua 3.2 SGD. Pulang dari Marlion tentunya naik kereta seperti tadi, kalau di Indonesia kaya KRLnya gitu deh.. disana orangnya ramah kok, bisa ditanya. Awalnya aku tanya pakai bahasa Mandarin, lalu beberapa teman membantu menggunakan bahasa Inggris, dan ada juga yang bisa menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Waktu kami beli makan, koko nya ramah banget, aku ajakin ngobrol pakai bahasa Mandarin dan aku diajarin juga beberapa kosa kata Mandarin yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Dia suka banget senyum dan ketawa bareng kita. Pokonya menyenangkan deh. Kalau ke SG lagi, mau mampir aah, pengen makan nasi goreng pattaya nyaaa. Pokoknya pengen makan itu kalau ke sini. Oiya, card keretanya aku juga masih ada kok, punyaku warna putih gambarnya boneka jalan sesama, ada tulisannya "sesame street". Jadi kalau suatu hari diajak Senpai (ekhem.. manager gitu. Aku bisa pakai kartu ituu, meski lain-lainnya dia bakal bayarin. Hahahaha). Usai jalan, kami kembali ke tempat dimana kami pesan bus sebelumya, menunggu beberapa saat dan akhirnya datang juga bus tersebut. Tidur sambil di bus deh. Ada hal lucu waktu di bus, pas Galih mau shalat.. di depan ada pemandangan… auiiiii ahahhahhaay. Gitu deh pokoknya. Hahahahaa. Kalau bis luar, aku lebih memilih untuk berada di kursi belakang, nomor dua dari belakang karena kursinya bisa di pol-in sampai bawah dan asyik buat tidur. Seatnya 2-1 kala itu.
Last Day



Pulang dari Singapura, kami menuju rumah bude untuk istirahat sejenak, persiapan, ke KLCC membeli oleh-oleh dan beberapa barang yang diinginkan juga berfoto. Tak lupa kami juga ke Uni KL untuk foto wisuda padahal belum wisuda, hahahaa…. Soon Agustus 2018 untukku ya Allah. Amiin….. singkat cerita, setelah foto di UNI KL, ke KLCC untuk foto dengan petronas dan Belanjah. Mumpung ada diskonan, hehehe waktu itu, aku beli jam tangan bareng sama Aya, soalnya kalau beli 2, harganya 50 RM. hihiii. Setelah puas belanjaaah, kami balik lagi ke rumah untuk mengemasi barang setelah kita jalan lagi, kita jajan waffle, harganya 3 RM. Kami juga diberi kenang-kenangan baju kurung sama Bude, terima kasih ya Bude. Selain itu, budhe juga menawarkan susu milo dan kita semua mau titip deh. hihihi.... Karena waktu mepet, dari KLCC balik ke rumah bude naik grab, dibayarin sama mas Dede (ciee baiknyaa), lalu karena mepet lagi kita lepas beres-beres lalu naik grab lagi ke stasiun menuju KLIA karena waktu yang begitu singkat. Akhirnya sampai juga di bandara dengan tepat waktu.
Nah… untuk biayanya nanti aku sertakan sekalian disini ya. Supaya lebih enak membacanya, aku beri tabel saja untuk rincian pengeluaran selama di KL dan di Sing.                           


6 Juli 2017 (KL)
Bus
12 RM
Bandara – KL Sentral
Bus
-
KL Sentral – Chokit (bus free)
Bus
2 RM
Chokit – rumah
Makan
4 RM
Nasi Briyani, ayam, ice TO
 18 RM
Total

7 Juli 2017 (KL)
Bus
2 RM
T 204 menuju Batu Cave
Ladoo
3 RM
1 ladoo : 1 RM
KMT
2.5 RM
Batu Cave – Masjid Nasional
KJL
2 RM
Masjis Jamek – KLCC
Makan
16.1 RM
Lime juice
Roti Naan dan Martabak (korsa)
Bus
2 RM
Go home
27.6 RM
Total
                                                         
8 Juli 2017 (Pulau Penang)
Bus
2.5 RM
Bus ke Chokit
Bus
3 RM
Menuju TBS
Bus
38.5 RM
TBS – Sungai Nibong
Bus
38.7 RM
Sungai Nibong – TBS
Bus 204
2 RM
Sungai Nibong – Komtar
Bus
2 RM
Menuju Bukit Bendera/Penang Hill
Gondola
30 RM
Menuju puncak (kereta)

51 RM
Lock Love
Jajan
2.9 RM
Es Cendul
Jajan
6 RM
Belangan (6RM/150 gr)
Makan
7.5 RM
Sup campur dan Barli ice
Bus
38.7 RM
Tiket balik lagi ke TBS
Air
1.5 RM

Bus
2.5 RM
Ke Chokit
Bus
2 RM
Ke rumah
 228.8 RM
Total
                                                                   
9 Juli 2017 (Melaka)
Bus
2.5 RM
Ke Chokit
Train
16.5 RM
Ke TBS
Bus
10 RM
TBS – Melaka Sentral
Bus
1.5 RM
Melaka Sentral- Bandar Hilir
Makan
8 RM
Laksa dan klepon

5 RM
Cincin
Jajan
7.5 RM
Moon Cake 5 buah
Bus
2.5 RM
Bandar Hilir – Melaka Sentral
Bus
26 RM
Melaka – Singapura
Hotel
30 RM
150 RM : 5 orang = 30 RM
109.5 RM
Total
            
10 Juli 2017 (Singapura)
Bus
2 RM
Karena sesuatu, jadi nambah bus
Kartu
12 SGD
Beli kartu dan top up
Bus
18 SGD
Sing – TBS
Makan
8 SGD
Makan siang dan malam (@4SGD)
Minum
4.3 SGD
Total semua minum
Kelapa
5.5 SGD
Coco + nut clasic
Toilet
3.2 SGD
Total semua
Train
16.5 RM
TBS – Chokit
Bus
2.5 RM
Pulang
21 RM   +   51 SGD
Total
                                      
11 Juli 2017 (KL)
Bus
3 RM
Ke Uni KL
Train
2.75 RM
Ke KLCC
Train
3.5 RM

Train
3.5 RM
Ke KL Sentral
Train
55 RM
Ke KLIA

25  + 15 RM
Jam Tangan dan kalung

15 + 3 RM
Milo dan waffle
120.75 RM
Total
                                            
Total Keseluruhan
RM
SGD
Total
18 RM

18 RM
27.6 RM

45.6 RM
228.8 RM

274.4 RM
109.5 RM

383.9 RM
21 RM
51 SGD
404.9 RM  +  51 SGD
120.75 RM

512.65 RM  +  51 SGD
530.65 RM
51 SGD

Rp 1.645.015
Rp 510.000
Rp 2.155.015



                  
NB : Tiket pesawat kala itu lagi diskon dan promo, aku lupa berapa. Hehehehe yang jelas, per orang nggak ada 1.500.000. seingatku gitu.. naik Air Asia.

Oh iya, pulangnya aku juga beli makan di pesawat. Kayaknya total semua 15 RM.       

oh iya, untuk teman-teman mau lihat beberapa koleksi foto jalan-jalan lainnya, bisa lihat di instagram aku yah... @w.s.ningrum

nuhun semuanya...

salam manis.