belajar menulis dengan beberapa tugas yang telah ada dan beberapa hal yang ingin disampaikan dengan metafora. selamat membaca, oh ya.. jika hendak mengutip beberapa info dari blog ini, mohon sertakan sumbernya ya.. ingat plagiat itu tidak baik lho. salam.... ws.ningrum

BTemplates.com

Mengenai Saya

Foto saya
wo shi filolog wo ye shi antropolog. dui, wo xi huan hanyu. jika ada yang mau kenalan, boleh kirim e-mail kakak :D oya, ws ningrum shi: windi susetyo ningrum
Diberdayakan oleh Blogger.

w.s.ningrum

w.s.ningrum
爱,我明白如果上帝不睡觉 我相信

20 Jul 2014

Mitoni (Tradisi Mitoni di Desa Bojong Karang Munyung, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah)


assalamualaikum,..
Pada kesempatan ini saya akan memaparkan mengenai salah satu adat Jawa yang dilaksanakan pada saat ibu hamil berusia tujuh bulan, atau dengan istilah jawanya dikenal dengan nama mitoni. selain mitoni, ada pula ngupati, yakni upacara kehamilan disaat ibu mengandung dengan usia empat bulan.
penelitian ini saya lakukan untuk memenuhi tugas semester. dengan objek yang saya teliti adalah desa Bojong, Purbalingga Jawa Tengah. 
Penelitia ini saya lakukan pada bulan November 2012 lalu, sebagai tugas Semester mata kuliah Pengkajian Penelitian Kebudayaan.
untuk kawan-kawan yang mau mengambil informasi dari blog ini, mohon jangan plagiat seenaknya, jangan pula mengakui penelitian orang lain sebagai penelitiannya. Sertakan sumber yang benar, jika ingin mengambil dari informasi yang ada pada blog ini.
Sikap jujur, bisa bertanggung jawab untuk semua perbuatan. Jujur adalah kunci dimana lancarnya sidang.
jika plagiat dan tidak mau menyertakan sumber, suatu saat akan ada balasannya, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahualam. Allah adalah hakim yang paling adil.
semoga tulisan ini dapat bermanfaat, untuk yang sedang mencari referensi ya..
Wassalamualaikum wr. wb. ^^

1. Latar Belakang
Penelitia ini dilatar belakangi dengan banyaknya budaya yang ada di Indonesia, termasuk budaya yang ada di daerah jawa. Orang Jawa dikenak dengan adat istiadatnya, disetiap adat istiadat memiliki makna yang terkandung di dalamnya, disetiap semua perilaku masyarakat jawa. Dengan objek yang penulis persempit, yakni daerah Banyumasan, tepatnya di Desa Bojong Karang Munyung, Purbalingga Jawa Tengah. ada satu tradisi yang mungkin saat ini sudah mulai pudar. adat istiadat yang sifatnya untuk menenangkan hati seorang wanita yang telah mengandung, mengandung pertama kalinya pada saat usia kandungannya sudah tua, atau hampir melahirkan. Wanita yang baru pertama kali mengalami kehamilan, tidak tahu apa yang seharusnya dikerjakan atau ditinggalkan, kecuali dengan perintah orang yang lebih mengetahuinya. tapi yang perku digarus bawahi adalah, bagaimana perasaan seorang wanita yang telah hamil itu? rasa kecemasan yang saat ini dilaluinya, apa saja yang harus dilakukan agar anaknya sehat, sempurna, dan selamat. apa pula yang harus dilakukan agar Ibu juga selamat? di daerah Jawa ada yang namanya ngupati dan mitoni. ngupati adalah sejenis upacara dimana ketika usia kehamilan Ibu empat bulan. hal ini dapat dikatakan merupakan sebuah simbol rasa syukur, di usia empat bulan ini pula, janin yang ada di kandungan Ibu ditiupkan ruh, sehingga banyak yang mengatakan "banyinya mendang-nendang". namun, pada kali ini tidak akan membahas lebih lanjut mengenai ngupati, penelitian ini akan fokus kepada mitoni. yakni upacara kehamilan Ibu yang berusia tujuh bulan. Mitoni berasal dari kata pitu, yang berarti tujuh. sering adanya bayi lahir prematur, banyak kasus yang menyatakan kalau bayi di usia tujuh bulan sudah lahir. apakah semua ibu siap dengan anaknya lahir prematur? yang semua anggota tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna? hal ini banyak menjadi ketakutan kepada setiap ibu hamil untuk pertama kalinya ia mengandung. Namun bukan berarti dengan kita mengadakan upacara mitoni, semua hal yang menjadi ketakutan akan hilang begitu saja, tentulah semua terjadi atas kehendak Allah semata. Mitoni adalah sebuah upacara, atau dapat pula dikatakan berdoa bersama-sama. warga mengadakan doa bersama untuk keselamatan Ibu dan anaknya ketika melahirkan besok. karena menurut pepatah ada yang mengatakan, semakin banyak yang mendoakan, maka doa akan semakin terkabul. hal ini bukan merupakan sebuah kemusyirikan, saya luruskan kembali ini adalah salah satu tradisi Jawa, dalam bentuk simbol yang didalamnya mengandung arti dan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT semata, bukan kepada hal lain. Mitoni memeiliki cara dan bentuk yang berbeda pada setiap daerahnya, namun di dalamnya mengandung satu arti dan garis besar yang sama.
Sesuai dengan teori difusi F. Ratel mengatakan bahwa kebudayaan manusia itu pangkalnya satu, dan di suatu yang tertentu, yaitu pada makhluk manusia baru saja muncul di dunia ini. Kemudian budaya induk itu berkembang, menyebar, dan pecah ke dalam banyak kebudayaan baru, karena pengaruh keadaan lingkungan dan waktu dalam proses pemecahan itu, bangsa-bangsa pemangku kebudayaan-kebudayaan tadi tidak tetap tinggal terpisah. sepanjang masa di muka bumi ini senantiasa terjadi gerak perpindahan bangsa-bangsa yang saling berhubungan serta pengaruh mempengaruhi. 

2. Rumusan Masalah
Penelitian ini mempunyai rumusan masalah antara lain :
1. bagaimana upacara mitoni yang ada di Desa Bojong Karang Munyung?
2. apa makna di balik tradisi mitoni yang dilakukan oleh masyarakat setempat?
3. apakah alasan penduduk setempat melakukan mitoni?

3. Tujuan
Tujuan dari adanya penelitian ini adalah :
1. Mengetahui upacara mitoni yang ada di desa Bojong Karang Munyung.
2. Mengetahui makna di balik tradisi mitoni yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
3. Mengetahui alasan penduduk setempat dalam melalukan mitoni.

4. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Wawancara
    Metode pertama yang dilakukan adalah dengan wawancara, sasarannya yakni penduduk asli desa Bojong dan pendatangm khususnya yang tahu mitoni.
2. Pengumpulan Data
    Pengumpulan data dilakukan setelah adanya wawancara, observasi langsung, dan studi pustakan untuk dijadikan sebagai bahan analisis dalam penelitian ini. 

5. Hasil dan Pembahasan
Berikut merupakan hasil dari penelitian terhadap mitoni di daerah Bojong Karang Munyung, Purbalinga, Jawa Tengah.

A. Tradisi Mitoni Masyarakt Bojong Karang Munyung
Menurut dari informan yang ditemui, dapat disimpulkan bahwa ritual tradisi mitoni oleh masyarakat desa Bojong Karang Munyung adalah sebagai berikut :
1. Pijet
Dilakukan oleh dukun bayi terhadap si ibu hamil. Hal ini bertujuan agar bayi yang ada di dalam kandungan dapat lahir pada posisi yang pas, posisi yang sebenarnya, yakni posisi kepala berada di bawah dan siap untuk lahir. bukan dalam posisi lainnya, baik melintang atau pun sungsang yang membuat proses persalinan tidak normal, seperti pada proses persalinan pada biasanya.
2. Mandi
Dilakukan oleh si Ibu hamil, dengan mengenakan sebuah kain. Dimandikan oleh dukun bayi atau oleh wanita tertua yang ada di lingkup keluarganya yang ada saat itu (ibu tertua)
3. Brojolan
Memasukan cengkir (kelapa yang berwarna kuning gading) yang digambari dengan tokoh wayang Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Ini dilakukan setelah mandi. Ibu hamil dipakaikan kain lagi (setelah kain yang tadi dikenakan untuk mandi, kemudian dililitkan kembali kain lagi, di dobel) namun dalam memakaikannya, tidak selonggar yang digunakan pada saat ritual mandi pada sebelumnya. kain yang kedua ini dililitkan longgar, tidak diikat, hanya digegam dengan tangan. setelah dililiti kain, kelapa yang tadi digambari dengan tokoh wayang, dimasukan lewat kain, dari atas ke bawah, sehingga kelapa terjatuh. Hal ini bertujuan agar ketika lahir, dapat lahir dengan mudah (seperti saat kelapa tadi dijatuhkan) tidak nyangkut. sedangkah warna kuning gading itu sendiri, diharapkan agar si anak lahir dan ketika ia tumbuh, ia memiliki warna kulit kuning gading seperti cengkir (kelapa gading tersebut). Gambar tokoh wayang sendiri memiliki arti, agar ketika lahir, si anak memiliki raut muka yang tampan seperti Dewa Kamajaya dan atau cantik seperti Dewi Ratih.
4. Bandeman
Melempati atap rumah dengan batu kerikil oleh anak-anak kecil dan pada saat batu kerikil itu dilempar, posisi si ibu berada di depan rumah, tepat di bawah seng (atap rumah) yang menjadi sasaran untuk dilempar kerikil tadi, oleh anak-anak. Konon hal ini dilakukan agar krlaj anaknya tidak tuli. 
5. Kepungan
Kepungan dapat diartikan senagai kumpul atau kumpul-kumpul. Dilaksanakan dengan melibatkan anak kecil  dan bapak-bapak yang ada di desa setempat, untuk mengikuti acara slametan. Kepungan dibagi dalam dua kelompok, pertama adalah kelompok anak-anak. Mereka diundang dan diberikan makanan (satu tempat makan dimakan secara bersama-sama) dengan lauk tertentu yang telah dipersiapkan seperti pada tradisi mitoni pada biasanya. Sembari makan, ibu hamil memilih dua anak (satu laki-laki dan satu perempuan) untuk diolesi gedhong (beras kuning) di dahinya. Si ibu memilih anak tersebut, anak yang paling disukai oleh ibu hamill. Hal ini mempunyai tujuan agar kelak si anak ketika lahir, seperti anak yang diolesi gedhong pada dahinya. Baik kebaikan sifatnya atau rupa si anak tersebut. Misalnya, ketika saya memilih anak dengan rupa kalem dan memiliki sifat kreatif, maka saya mengharapkan kelak anak saya menjadi kalem dan kreatif, meskipun anak yang ikut kepungan tadi sedikit nakal, tetapi bukan sifat nakalnya yang saya lihat. Saya menyukai sifat kalem dan kreafit, sehingga hal tersebut yang menjadi harapan saya untuk anak saya kelak, ketika besok sudah lahir. Kedua, adalah kepungan yang diisi oleh bapak-bapak. Peran bapak disini adalah untuk mendoakan calon bayi agar bisa lahir dengan selamat, dan ketika si ibu hamil  lagi, maka ibu akan diberi keselamatan dan kemudahan untuk melahirkan. Bisa dikatakan pula, peran bapak dalam acara kepungan ini adalah untuk mendoakan keselamatan ibu dan bayi. Perbedaan kepungan bapak-bapak dan anak-anak tidak hanya dalam tata cara dan peran saja, tetapi dalam penyajian makanan pun berbeda. Jika anak-anak tadi dilakukan dengan makan bersama, maka bapak-bapak dalam penyajian makanannya sudah dalam bentuk besek (sudah ditempatkan di keranjang untuk dibawa pulang seperti kendurenan), karena disini peran utamanya adalah untuk mendoakan (biasanya dalam bentuk yasinan).
6. Makanan
jenis makanan yang dihidangkan dalam mitoni, antra lain :
  a. pala pendhem (umbi-umbian)
  b. Rujak
  c. Cendol
  d. Ketupat
  e. Apem
  f. Sambel bisa (terbuat dari srundeng, kacang ijo, gula jawa, sereh, dan garam)
  g. Klubanan (urap)
  h. iwak kali (ikan sungai)
7. Hari Baik
Hari baik untuk melakukan mitoni adalah hari selasa atau jumat. Namun ketika tujuh bulan tersebut tidak jatuh pada salah satu hari itu, maka memilih hari yang terdekat dalam satu minggu itu, dimana hari yang dekat (Selasa atau Jumat). Misalnya, tujuh bulan saya tiba pada hari Kamis, maka mitoni yang saya lakukan adalah pada hari Jumat.

B. Makna Tradisi Mitoni yang Dilakukan Masyarakat Setempat
makna dari adanya tradisi mitoni yang dilakukan masyarakat setempat antara lain :

Kegiatan
Makna
Pijet
Hal ini merupakan gambaran dalam upaya untuk membenarkan posisi bayi di kandungan. Diharapkan dengan dilakukannya pijet, pada saat melahirkan nanti, si ibu dapat dengan mudah mengeluarkan bayinya dengan posisi bayi yang normal, yakni posisi kepala berada di bawah (tidak melintang atau sungsang).
Siraman/mandi
Tanda pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Secara simbolis bertujuan membebaskan si calon ibu agar bersih dari dosa-dosa dan kelak ketika melahirkan terbebas dari beban moral, sehingga proses kelahirannya dapat berjalan dengan lancar
Brojolan.
Memasukan kelapa gading ke dalam kain. Lalu menidurkannya di tempat tidur bayi, layaknya bayi sungguhan.
Bayi dapat lahir dengan mudah, tanpa kesulitan.
Kelak jika lahir, rupa bayi tersebut akan setampan Dewa Kamajaya dan atau secantik Dewi Ratih.
Bandeman
Pada dasarnya, masyarakat mengatakan bahwa bandeman  bertujuan agar kelak anaknya tidak tuli. Tetapi dalam logika, tidak ada hubungannya antara ibu yang merasa kebisingan dengan normal atau tidaknya indra pendengaran si anak dalam kandungan.
Bandeman merupakan tanda agar si anak mau menanggapi rangsang. tuli dapat dikatakan pula, ia tidak dapat mendengar atau tidak peka dengan sekelilingnya. batu yang dilempar ke seng (atap rumah) akan menimbulkan bunyi yang keras dan berisik. namun disisi lain yang patut untuk diambil simbolisnya adalah, bagaimana reaksi si ibu ketika mendengar suara berisik tersebut. Ia akan menanggapi dengan positif, marah, atau bahkan cuek. Dalam ilmu kedokteran ada yang mengatakan, kalau ia tuli, ia pasti bisu. 
Melihat dari beberapa pernyataan di atas, suara adalah sumber, dimana ia ditanggapi oleh telinga. Indra mana yang akan menanggapi secara langsung, tergantung sikap kita. 
Bandeman tidak hanya identik dengan tuli saja. Namun lebih menitikberatkan, tujuan dari adanya hal ini adalah agar kelak si anak ketika sudah lahit, ia dapat menganggapi rangsang (atau dalam kata lain peka) terhadap hal-hal yang ada di sekelilingnya. Baik itu merupakan hal yang positif, misalnya adalah kepada hal-hal yang berbau sosial, atau hal lain yang mengarahkan kepada ia agar si anak kerap tidak bersikap cuek dan pasif, terhadap hal yang terjadi disekelilingnya.
Kepungan
Kepungan yang dilakukan oleh anak-anak dapat menyimbolkan, dalam diri manusia ia mempunyai berbagai sifat (baik buruk), rupa (bagus jelek) dan berbagai hal lain yang melekat pada diri anak. Dalam hal ini, menyimbolkan harapan agar kelak ketika lahir, anaknya bisa seperti yang diharapkan oleh ibunya, melihat dari beberapa anak yang sedang makan. Si ibu memilih anak, mana yang ia pilih adalah ketia si ibu suka dengan anak tersebut. Dalam hal apapun yang positif.
Kepungan yang dilakukan oleh bapak-bapak merupakan permohonan (doa bersama) untuk keselamatan ibu dan anak ketika proses persalinan lainnya. Simbol berkat yang dibawa pulang sebagai wujud untuk berbagi dengan yang ada di rumah. sebagai pemimpin yang baik, ketika mendapatkan rezeki, maka harus berbagi dengan keluarganya.
Makanan
Simbol makanan, mempunyai harapan dan arti tersendiri di dalamnya. misalnya dalam 
ketupat : hal ini berasal dari kata "ngaku" dan "lepat" yang berarti mengaku salah. Simbol ini dimaknai, permohonan maaf kepada pihak penyelenggara mitoni, kepada tamu yang telah hadir untuk membantu proses berjalannya mitoni. Hal permohonan maaf ini berbarti pengakuan salah, ketika dalam proses penyelenggaraan mitoni ada kekurangan atau kesalahan yang disengaja atau yang tidak. agar tidak ada tamu yang memberikan doa buruk kepada ibu dan anak ketiaka proses penyalinan. agar lancar dan didoakan baik.

Rujak : mitosnuya rasa rujak yang dihasilkan adalah sebua prediksi, si anak lahir laki-laki atau perempuan. Namun yang membuat rujak adalah si ayah. ketika rujaknya pedas, maka yang lahir adalah perempuan dan ketika rasanya tidak pedas, maka yang lahir adalah laki-laki.
namun hal ini belum ada penelitian secara ilmiahnya. Rujak hanya digunakan sebagai teka-teki dalam acara mitoni, sebagai bentuk bersyukur, baik laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut merupakan anugerah dan kado terindah dalam pernikahan.
Hari baik
Hari yang baik dalam pemilihan untuk upacara mitoni, hal ini sudah turun temurun dilakukan. bersadarkan beberapa tradisi dan pengalaman yang ada, hari baik adalah selasa dan jumat.

C.  Alasan Penduduk Melakukan Mitoni
Hasil wawancara masyarakat terhadap tradisi mitoni ini adalah untuk meminta keselamatan pada saat melahirkan dan meminta keberkahan pula pada fase kehamilan berikutnya. Siapa yang tidak mau akan didoakan? Pasti semua orang akan menerimanua dengan baik. Walaupun banyak masyarakat setempat yang kurang paham akan apa arti dan maka dari mitoni itu sendiri, mereka melakukannya atas dasar tradisi yang sudah turun temurun, walau tradisi tersebut kian lama kian menurun ritual yang dilaksanakannya.
Dari sepuluh responden, sebagian besar melakukan mioni hanya karena tradisi dan kebiasaan adat istiadat setenpat saja dan tidak megetahui apa makna dan alasannya, baik apa arti hidangan dan apa arti kegiatan yang sedang mereka lakukan tersebut.
Menurut Ratmini (60th) ia mengaku akan melakukan apapun pada saat tradisi mitoni tersebut sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh si dukun bayi tersebut. Beliau pernah bercerita, supaya jalannya licin saat melahirkan, dianjurkan untuk meminum lenga klentik dengan daun lumbu di depan pintu. Nguntal (memakan dengan cepat) terur ayam kampung mentah, agar dingin. Semua dilakukannya karena atas dasar si dukun bayi yang menyuruhnya dan ia percaya, walau tanpa dasar yang jelas ia melakukan hal tersebut.
Dukun bayi di desa Bojong Karang Munyung sudah banyak yang meninggal dunia dan keberadaannya sulit ditemukan (langka dan bahkan nyaris tidak ada, karena sudah tertutup dengan adanya Bidan), jadi peneliti tidak bisa mengungkapkan makna dari hal aneh yang dilakukan oleh masyarakat setempat. 


Simpulan
Tradisi mitoni yang notabene kurang tahu akan maknanya yang mendalam, namun masyarakat mempercayai akan doa bersama. Doa yang dilakukan secara bersama-sama pasti akan mudah terkabul, walau memang Allah-lah yang berhak memutuskan.
Tradisi mitoni yang dilaksanakan berdasarkan pada tradisi dan kepecayaan setempat, kini sudah mulai pudar karena perkembangan zaman. Ritualnya pun kini hanya mandi/siraman yang dilakukan oleh si calon nenek atau perempuan yang tertua. Kemudian mengadakan kendurenan/selamatan untuk  meminta doa kepada Allah SWT. Kendurenan yang dilaksanakannya pun kini tidak seperti dahulu, sejak masuk adanya tahlilan dan yasinan, kini masyarakat setempat kerap melakukan kendurenan setelah maghrib. Kepungan yang dilakukan oleh anak-anak sudah tidak ada lagi karena beberapa faktor salah satunya adalah faktor ekonomi dan saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya bocah pangon karena memang keberadaannya sudah jarang.
Saran
Mitoni dapat dilakukan oleh siapapun dan di mana pun sesuai dengan adat istiadat dan kepercayaan orang yang melaksanakan, namun jangan sampai disalah artikan. Mitoni bukan meminta berkah kepada roh halus atau nenek moyang. Melainkan hanya kepada Allah SWT dan salah satu jalan agar banyak yang mendoakan akan keselamatan si calon bayi adalah dengan mitoni, yang di dalamnya ada suatu doa untuk keselamatan.


Daftar Pustaka

Hardjowirogo, Marbangun. 1983. Manusia Jawa. Jakarta: Yayasan Idayu.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Margono, Aji. Primbon Japa Mantra. Surabaya: Apollo.
Mulder, Niels. 1996. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakata: Gajah Mada University Press.
muquffa, Ahmad. 2011. Budaya Slanetan dalam Masyarakat Jawa. http://ahmad-muquffa.blog.ugm.ac.id/. 24 Oktober 2012.
Peursen, van. 1989. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius
Thohir, Mudjahirin. 2009. Metodologi Penelitian Folklor. Semarang: Badan Penerit Universitas Diponegoro.

Daftar Daftar Responden

1. Ibu Ngatmini
2. Ibu Sunaryati
3. Ibu Nurlarsasih
4. Ibu Ratmini
5. Ibu Miah
6. Ibu Eni
7. Ibu Slamet
8. Ibu Tri
9. Ibu NN
10. Ibu Suprihatin

Lampiran 
1. Kelapa gading
2. Kepungan (salah satu kepungan yang diambil dari internet)



4 komentar:

  1. Terima kasih buat berbagi kajiannya soal Mitoni, dear Mbak Windi! Selain informatif, kajian ini juga memberikan gua inspirasi soal tidak selamanya ritual atas tradisi luhur selalu berbau metafisis

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan dari artikel ini saya juga tahu, kalau setiap daerah memiliki ritual yang berbeda. hehee

      Hapus
  2. Ya alloh itu adat zaman aku kecil skrang tinggal kenangan pengen rasanya menyaksikan adat sperti itu lg kerukunan keluarga yg murni, waktu kecil lg sekolah sd paling seneng di panggil di suruh ke kali jiblonan terus lemparin batu bis itu kepungan faforit bngt sambel bisa mantap tapi sayang hanya tinggal kenangan salam dari saya asal candiwulan kutasari purbalingga

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo kakak dari candiwulan :D
      terima kasih sudah mampir blog saya. mari kita melestarikan budaya sendiri, minimal dengan menuliskan cerita tersebut. semakin hari memang adat asli semakin hilang karena adanya perubahan dalam pemikiran dan juga kepraktisan. kalau bukan kita sebagai generasi penerus yang berinisiatif memunculkan tradisi itu kembali, lalu siapa ^^

      salam kenal ya kakak

      Hapus